SELAMAT MEMBACA SOBAT... SEMOGA BERMANFAAT AMIIN... BB : 542B97DF

Jumat, 27 Juni 2014

SAINS

SAINS

Ilmu, sains, atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.[1] Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.[2]
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (material saja), atau ilmu psikologihanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari dan bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat.
Sains merupakan ilmu yang tidak lepas dari aktifitas kehidupan kita sehari-hari. Tentunya kita sudah terbiasa dengan fenomena-fenomena alam disekitar kita, tetapi tidak sedikit dari kita yang belum memahami bagaimana proses dari fenomena tersebut, bagaimana hukum atau teori yang telah dikemukakan oleh para ilmuwan, dan apakah hakikat dari ilmu sains itu, bagaimana cara sains menyelesaikan masalah, dan apa sajakah manfaat sains dalam kehidupan kita. Hal tersebut akan dibahas lebih luas dan mendalam dalam makalah ini.
A.   ONTOLOGI SAINS
1.    Hakikat Sains
Pengetahuan sains adalah pengetahuan yang objeknya rasional dan empiris. Yang dimaksud dengan masalah rasional adalah menguji kebenaran hipotesis dengan akal. Apabila bisa diterima dari segi kerasionalannya atau dengan kata lain masuk akal maka hipotesis itu sah. Maksud dari masalah rasional yaitu adanya hubungan sebab akibat. Pada dasarnya cara kerja sain adalah kerja mencari hubungan sebab-akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain, (Fred N. Kerlinger, 1973). Sedangkan yang dimaksud dengan masalah empiris adalah dengan menguji hipotesis dengan prosedur metode ilmiah. Rumus baku metode ilmiah adalah logico-hypotetico-verificatif (buktikan bahwa itu logis, tarik hipotesis dan ajukan bukti empirisnya).

2.    Struktur Sains
Secara garis besar sains dibagi menjadi dua cabang yakni sains kealaman dan sains sosial, tetapi dalam struktur sains juga terdapat ilmu yang mendukung dan dijadikan sebagai pelengkap atau humaniora.
1)   Sains Kealaman
Dalam sains kealaman meliputi Astronomi, Fisika, Kimia, Ilmu Bumi, dan Ilmu Hayat.
2) Sains Sosial
Sedangkan dalam sains sosial meliputi Sosiologi, Antropologi, Psikologi, Ekonomi dan Politik.
3) Humaniora sebagai pelengkap
Humaniora meliputi Seni, Hukum, Filsafat, Bahasa, Agama dan Sejarah.
B. EPISTIMOLOGI SAINS
1. Objek Pengetahuan Sains
Objek pengetahuan sains ialah semua objek yang diteliti oleh sains. Semua objek tersebut bersifat empiris. Objek kajian sains meliputi objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia, (Jujun S. Suriasumantri, 1994). Yang dimaksud pengalaman di sini ialah pengalaman indera. Objek yang dapat diteliti oleh sains seperti fenomena-fenomena alam sekitar, manusia, tumbuh-tumbuhan, dan hewan.
2. Cara Memperoleh Pengetahuan Sains
Cara memperoleh pengetahuan sains adalah lewat akal. Karena akal dianggap mampu dan setiap orang bekerja berdasarkan aturan yang sama yakni logika alami yang ada pada akal setiap manusia.
Berkembangnya sains didorong oleh berkembangnya paham Humanisme yang telah lahir pada zaman Yunani Kuno. Arti dari paham ini adalah paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alam. Kemudian humanisme melahirkan rasionalisme.Rasionalisme yaitu paham yang mengatakan bahwa akal adalah pencari dan pengukur pengetahuan. Empirisme yaitu paham yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan ada bukti empiris. Sedangkan, Positivisme ialah paham yang mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empiris dan terukur. Metode ilmiah mengatakan bahwa untuk memperoleh suatu kebenaran maka harus  dilakukan langkah berikut : logico-hypothetico-verificartif. Maksudnya, mula-mula buktikan bahwa itu logis, kemudian ajukan hipotesis (berdasarkan logika itu), kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara empiris. Metode Ilmiah secara teknis dan rinci dijelaskan dalam satu bidang ilmu yang disebut Metode Riset yang menghasilkan Model-model Penelitian.
3. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sains
Ukuran kebenaran sains adalah sebuah teori dianggap benar jika dapat ditemukan bukti empiris. Jika jika teori itu selalu didukung bukti empiris, maka teori itu naik tingkat keberadaannya menjadi hukum atau aksioma. Mayoritas, menganggap bahwa hipotesis bersifat kemungkinan, antara yang benar dan yang salah sama besar. Padahal di dalam sains, hipotesis adalah pernyataan yang sudah benar secara logika, tetapi belum ada bukti empirisnya. Hipotesis dianggap benar jika sudah ada keterangan logis, belum atau tidak adanya bukti empiris tidak menyebabkan hipotesis tersebut salah. Dari hal tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa kelogisan suatu hipotesis lebih penting dari pada bukti empirisnya.



C. AKSIOLOGI SAINS
1. Kegunaan Ilmu Sains
Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya pengetahuan sains memiliki nilai guna yang membatu hubungan kehidupan manusia dengan alam sekitarnya. Paling sedikit ada tiga kegunaan teori sains antara lain sebagai alat eksplanasi, sebagai alat peramal dan sebagai alat pengontrol.
a.) Teori Sebagai Alat Eksplanasi
Sains merupakan suatu sistem eksplanasi yang paling dapat diandalkan dibandingkan dengan sistem lainnya dalam mempelajari masa lampau, menjalani masa sekarang, serta mempersiapkan untuk masa depan, (T. Jacob, 1993). Menurut teori sains pendidikan, anak-anak yang orang tuanya cerai atau sering disebut broken home, pada umumnya akan berkembang menjadi anak yang nakal. Penyebabnya ialah karena anak-anak itu tidak mendapat pendidikan yang baik dari kedua orang tuanya. Padahal pendidikan dari kedua orang tua amat penting dalam pertumbuhan anak menuju dewasa.
b.) Teori Sebagai Alat Peramal
Ketika membuat eksplanasi, biasanya para ilmuwan telah mengetahui faktor yang menyebabkan timbulnya suatu gejala. Dari faktor tersebut para ilmuwan dapat membuat sebuah ramalan atau prediksi. Sebagai contoh, jika banyak kasus perceraian antara hubungan rumah tangga, maka dapat diramalkan bahwa kenakalan remaja akan meningkat, meningkatnya aksi anarkis remaja seperti pada kasus geng motor.
c.) Teori Sebagai Alat Pengontrol
Eksplanasi merupakan bahan untuk membuat ramalan atau prediksi dan alat pengontrol. Perbedaan antara prediksi dengan alat pengontrol adalah prediksi lebih cenderung bersifat pasif, karena ketika timbul gejala tertentu, maka kita dapat membuat prediksi, misalnya akan terjadi keadaan atau kondisi tertentu pula. Sedangkan alat pengontrol lebih bersifat aktif terhadap sesuatu keadaan, contohnya kita membuat tindakan efektif yang mampu meminimalisir dampak yang ditimbulkan dari adanya suatu gejala tersebut.
Kita mengambil contoh seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yakni jika banyak kasus perceraian maka timbul prediksi kenakalan remaja akan meningkat. Dalam kasus ini kenakalan remaja disebabkan oleh minimnya perhatian orang tua terhadap perkembangan emosional anak mereka, sehingga mereka mencari sendiri guru yang mampu mengajari mereka bagaimana cara bertahan hidup. Untuk mencegah meningkatnya kenakalan remaja yang disebabkan oleh perceraian orang tua mereka, maka harus diadakannya tindakan yang preventif dari kerabat dekat mereka seperti kakek atau nenek, paman atau bibi yang menggantikan peran orang tua mereka. Tindakan inilah yang disebut dengan ilmu sains sebagai alat pengontrol.
2.    Cara Sains Menyelesaikan Masalah
Dalam menyelesaikan masalah ada beberapa langkah di dalam sains yaitu pertama, dengan mengidentifikasi masalah. Dalam mengindentifikasi masalah ini biasanya dilakukan sebuah penelitian untuk memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dan mengetahui secara lebih mendetail pada gejala yang timbul di tengah kehidupan masyarakat. Kedua, dengan mencari teori tentang sebab-akibat yang diambil dari sebuah literatur. Hal ini bertujuan untuk mengetahui beberapa teori yang menjelaskan penyebab dari gejala yang timbul. Ketiga, dengan membaca kembali literatur. Setelah mengetahui penyebab dari gejala yang timbul maka kita harus membaca kembali literartur untuk mengetahui tindakan apa yang paling tepat untuk mengatasi gejala-gejala tersebut.


3.    Netralitas Sains
Netral biasanya diartikan tidak memihak. Dengan kata lain sains disebut netral artinya adalah sains tidak memihak pada kebaikan dan tidak juga pada kejahatan selain itu sains juga tidak memberikan nilai baik atau buruk, halal atau haram, sopan maupun tidak sopan. Sains hanya memberikan nilai benar atau salah. Pengertian tersebut menyebabkan bahwa sains itu netral atau sering diganti dengan istilah sains bebas nilai (value free) bukan terikat nilai (value bound).
Sains dianggap netral memiliki keuntungan dan juga kerugian sebagai berikut, apabila sains sebaiknya netral maka dampak positif yang diberikan adalah perkembangan sains akan cepat terjadi. Hal ini disebabkan karena tidak adanya halangan dalam penelitian ketika memilih objek yang hendak diteliti, cara meneliti dan ketika menggunakan hasil penelitian. Di sisi lain, sebagian orang yang menganggap sains tidak netral, akan membatasi penelitian dalam memilih objek penelitian, cara meneliti ataupun menggunakan produk penelitian.
Suatu contoh ketika kita akan meneliti anatomi dan cara kerja jantung manusia, orang yang beranggapan bahwa sains tidak netral akan mengambil jantung hewan yang paling mirip anatominya dengan jantung manusia, akan meneliti jantung tersebut dengan cara tidak menyakiti hewan penelitiannya, dan menggunakan hasil dari penelitian tersebut hanya untuk kebaikan. Sedangkan, orang yang beraliran sains itu netral, kemungkinan akan mengambil jantung dari seorang tunawisma, tanpa mempedulikan objek penelitiannya merasa menderita atau tidak, serta menggunakan hasil dari penelitian tersebut secara bebas.
Paham sains netral sebenarnya telah melawan atau menyimpang dari maksud penciptaan sains, yang semula sains digunakan untuk membantu manusia dalam menghadapi masalah tetapi ini malah menambah masalah baru. Berdasarkan uraian sederhana sebelumnya, dapat disimpilkan bahwa  yang paling bijaksana adalah kita memihak pada pemahaman bahwa sains tidaklah netral. Sains adalah bagian dari kehidupan, sementara kehidupan secara keseluruhan tidaklah netral.

FILSAFAT SAINS
Filsafat sains adalah bidang sains yang mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari sains, yang termasuk di dalamnya antara lain sains alam dan sains sosial. Di sini, filsafat sains sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi.


MISTIK

PENGETAHUAN MISTIK
Pengetahuan Mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio, pengetahuan ini kadang-kadang memiliki bukti empiris tapi kebanyakan tidak dapat dibuktikan secara empiris.
A. ONTOLOGI PENGETAHUAN MISTIK.
1. Hakikat Pengetahuan Mistik
Mistik adalah pengetahuan yang tidak rasional, ini pengertian yang umum.adapun pengertian mistik dikaitkan dengan agama ialah pengetahuan ajaran atau keyakinan tentang tuhan yang diperoleh melalui meditasi atau spiritual, bebas dari ketergantungan pada indera dan rasio (A.S. Hornby, A Leaner’s Dictionary of Current English, 1957 : 828).
Pengetahuan mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami oleh rasio, maksudnya hubungan sebab akibat yang terjadi tidak dapat dipahami rasio. Pengetahuan ini kadang-kadang memiliki bukti empiris tetapi tidak dapat dibuktikan secara empiris.
Pengetahuan mistik sebenarnya pengetahuan yang bersifat mistik ialah pengetahuan yang supra-rasional tetapi kadang-kadang memiliki bukti empiris.

2. Struktur Pengetahuan Mistik.
Dilihat dari sifatnya kita membagi mistik menjadi dua bagian yaitu mistik biasa dan misitk magis. Mistik-biasa ialah mistik tanpa kekuatan tertentu. Dalam Islam mistik yang ini ialah tasawuf. Mistik magis ialah mistik yang mengandung kekuatan tertentu dan biasanya untuk mencapai tujuan tertentu. Mistik magis dibagi dua macam, yaitu mistik-magis-putih dan mistik-magis-hitam. Contoh magis putih di dalam Islam seperti mukjizat, karomah ilmu hikmah. Sedangkan contoh magis hitam seperti santet, dan sejenisnya yang menginduk ke sihir. Magis hitam berasal dari luar agama.
Perbedaan mendasar ada pada segi filsafatnya. Magis putih selalu dekat dan berhubungan dan bersandar pada Tuhan, sehingga dukungan Ilahi sangat mendukung. Hal ini berjalan sejak zaman kenabian, pada pemilik magis putih selain Nabi disebut karamah. Kekuatan supranatural pada Nabi ada juga yang ditunjukan melalui benda seperti mukjizat Nabi Musa. Dalam benda seperti itu telah terdapat kekuatan Ilahiah (Ibn Khaldun, Muqaddimah, 1986 : 690).
Magis hitam selalu dekat, bersandar dan bergantung pada kekuatan setan dan roh jahat. Menurut Ibn Khaldun (1986 : 684) mereka memiliki kekuatan di atas rata-rata manusia, kekuatan mereka itu memungkinkan mereka mampu melihat hal-hal gaib, karena adanya dukungan setan atau roh jahat tadi. Jiwa-jiwa yang memiliki kemampuan magis ini dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :
Pertama, mereka yang memiliki kemampuan atau pengaruh melalui kekuatan mental atau himmah. Kedua, mereka yang melakukan pengaruh magisnya dengan menggunakan watak benda-benda atau elemen-elemen yang ada didalamnya, baik benda angkasa atau benda yang ada dibumi. Ketiga, mereka yang mekakukan pengaruh magisnya melalui kekuatan imajinasi sehingga menimbulkan berbagai fantasi pada orang yang dipengaruhi. Kelompok ini disebut kelompok pesulap (sya’badzah).

B. EPISTEMOLOGI PENGETAHUAN MISTIK.
Pengetahuan mistik ialah pengetahuan yang diperoleh tidak melalui indera dan bukan melalui rasio. Pengetahuan ini diperoleh melalui rasa, melalui hati sebagai alat merasa. Kalau indera dan rasio ialah alat mengetahui yang dimiliki oleh manusia, maka rasa atau hati juga alat mengetahui.

Objek Pengetahuan Mistik.
Yang menjadi objek pengetahuan mistik ialah objek yang abstrak-supra-rasional, seperti alam gaib termasuk Tuhan, Malaikat, surga, neraka, jin dan lain-lain. Termasuk objek yang hanya dapat diketahui melalui pengetahuan mistik ialah objek-objek yang tidak dapat dipahami oleh rasio, yaitu objek-objek supra-natural (supra-rasional), seperti kebal, debus, pelet, penggunaan jin dan santet.
Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik.
Pada umumnya cara memperoleh pengetahuan mistik ialah latihan yang disebut juga riyadhah. Dari riyadhah itu manusia memperoleh pencerahan, memperoleh pengetahuan yang dalam tasawuf disebut ma’rifah.
Ukuran Kebenaran Pengetahuan Mistik.
Satu-satunya tanda pengetahuan disebut pengetahuan (bersifat) mistik ialah kita tidak dapat menjelaskan hubungan sebab akibat yang ada di dalam sesuatu kejadian mistik. Akan lebih merepotkan kita memahami sesuatu teori dalampengetahuan mistik bila teori itu tidak punya bukti empirik; sulit diterima karena secara rasional tidak terbukti dan bukti empirik pun tidak ada.

C. AKSIOLOGI PENGETAHUAN MISTIK.
Kegunaan Pengetahuan Mistik.
Di kalangan sufi (pengetahuan mistik biasa) dapat menetramkan jiwa mereka, mereka bahkan menemukan kenikmatan luar biasa tatkala “berjumpa” dengan kekasihnya (Tuhan). Pengetahuan mereka sering dapat menyelesaikan persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh sain dan filsafat. Pemegang magis putih menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan, seperti untuk pengobatan, mendamaikan suami istri yang sedang cekcok.
Cara Pengetahuan Mistik Menyelesaikan Masalah.
Dari sini muncul lagi istilah baru dalam dunia mistik magis dalam dunia Islam, yaitu ‘ulum al-hikmah yang berisi antara lain rahasia-rahasia huruf Al-qur’an yang mengandung kekuatan magis, rahasia wafaq, rahasia asma Ilahiah dan ayat-ayat Ilahiah. Dari kontemplasi dan pengolahan spiritual, para tokoh akhirnya mampu merumuskan berbagai formulasi kekuatan rohaniah yang terkandung dalam ayat-ayat Al-qur’an. Kekuatan alam (aflak) pun akhirnya tunduk di bawah sinar Ilahi dan dukungan-Nya melalui huruf-huruf dan nama-nama indah-Nya. Malalui kalam Ilahi inilah jiwa-jiwa Ilahiah yang aktif di dunia dapat digunakan oleh manusia untuk tujuan-tujuan yang dikehendakinya.

Contoh pengetahuan mistik
 ILMU LADUNI.
Dalam tasawuf dikenal tiga alat untuk berkomunikasi secara rohaniah, yaitu kalbu untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan, roh untuk mencintai Tuhan dan sirr untuk musyahadah yakni menyaksikan keindahan, kebesaran dan kemuliaan Tuhan secara yakin. Ketiga unsur itu sebenarnya menyatu, kesatuan itu secara umum disebut hati. Jika hati tersebut dikosongkan dari segala sesuatu yang buruk dan diisi dengandzikrullah, maka hati itu akan mencapai pengetahuan yang disebut laduni. Dalam kondisi seperti itu orang tersebut telah mencapai tingkatan wali Allah atau manusia Tuhan.
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa, ilmu laduni adalah ilmu batiniah yang bukan merupakan hasil pemikiran; ilmu laduni adalah ilmu yang diterima langsung melalui Tuhan, iluminasi atau inspirasi dari sisi Tuhan. Adanya ilmu laduni dibenarkan oleh Al-qur’an seperti disebut dalam surat al-Kahfi : 65 “Dan telah Kami ajarkan (kepada Khidir) ilmu dari Kami”.
Epistemologi.

SIHIR.
Secara etimologis kata sihir berasal dari bahasa Arab bentuk mashdar kata kerja sahara-yasharu yang memiliki arti sesuatu yang sumbernya lembut dan halus. Selain makna bahasa di atas, kata sihir secara bahasa juga berarti al-sharfu (membelokan), maksudnya membelokan sesuatu dari kenyataan yang sebenarnya ke sesuatu yang bukan yang sebenarnya.

SANTET.
Istilah santet ialah sebutan yang digunakan di Jawa Timur, di Bali disebut leak, di NTB dan NTT disebut leo-leo, tenung di Jawa Tengah, teluh di Jawa Barat, di Tapanuli disebut begu ganyang dan di Madura disebut se’er. Dalam Kamus Umum Bahasa Sunda (1982: 152) disebutkan bahwa santet adalah jampe pamake keur hasud ka batur sina gering atawa maot (mantra yang dibacakan dengan maksud hasud pada orang lain agar sakit atau mati).

Dll.

FILSAFAT

FILSAFAT

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar.[1]Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

Ontologi Pengetahuan Filsafat
Ontologi filsafat membicarakan hakikat filsafat, yaitu apa pengetahuan filsafat itu sebenarnya. Struktur filsafat dibahas juga disini. Yang dimaksud struktur filsafat disini ialah cabang-cabang filsafat serta isi (yaitu teori) dalam setiap cabang itu. Yang dibicarakan disini hanyalah cabang-cabang saja, itupun hanya sebagian. Teori dalam setiap cabang tentu sangat banyak dan itu tidak dibicarakan disini. Struktur dalam arti cabang-cabang filsafat sering juga disebut sistematika filsafat. Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Jadi ontology adalah the theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Sedangkan Noeng Muhadjir dalam bukunya Filsafat ilmu mengatakan, ontology membahas tentang yang ada,yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berusaha mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, menurut istilah, ontology ialh ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret mauun rohani/abstrak.
Ontologi filsafat membicarakan hakikat filsafat, yaitu apa pengetahuan filsafat itu sebenarnya. Struktur filsafat dibahas juga disini. Yang dimaksud struktur filsafat disini ialah cabang-cabang filsafat serta isi (yaitu teori) dalam setiap cabang itu. Yang dibicarakan disini hanyalah cabang-cabang saja, itupun hanya sebagian. Teori dalam setiap cabang tentu sangat banyak dan itu tidak dibicarakan disini. Struktur dalam arti cabang-cabang filsafat sering juga disebut sistematika filsafat.



Hakikat Pengetahuan Filsafat
Hatta mengatakan bahwa pengertian filsafat lebih baik tidak dibicarakan lebih dulu, nanti bila orang telah banyak mempelajari filsafat orang itu akan mengerti dengan sendirinya apa filsafat itu (Hatta, Alam Pikiran Yunani, 1966, I:3). Langeveld juga berpendapat seperti itu. Katanya, setelah orang berfilsafat sendiri, barulah ia maklum apa filsafat itu, makin dalam ia berfilsafat akan semakin mengerti ia apa filsafat itu (Langeveld, Menuju ke Pemikiran Filsafat, 1961:9). Pendapat Hatta dan Langeveld itu benar, tetapi apa salahnya mencoba menjelaskan pengertian filsafat dalam bentuk suatu uraian. Dalam uraian itu diharapkan pembaca mengetahui apa filsafat itu, sekalipun belum lengkap. Dan dari situ akan dapat ditangkap apa itu pengetahuan filsafat. Poedjawijatna (Pembimbing ke Alam Filsafat, 1974:11) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka. Hasbullah Bakry (Sistematik Filsafat, 1971:11) mengatakan bahwa filsafat sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
Definisi Poedjawijatna dan Hasbullah Bakry menjelaskan satu hal yang penting yaitu bahwa filsafat itu pengetahuan yang diperoleh dari berpikir. Ciri khas filsafat ialah ia diperoleh dengan berpikir dan hasilnya berupa pemikiran (yang logis tetapi tidak empiris). Apa yang diingatkan oleh Hatta dan Langeveld memang ada benarnya. Kita sebenarnya tidak cukup hanya mengatkan filsafat itu hasil pemikiran yang tidak empiris, karena pernyataan itu memang belum lengkap. Bertnard Russel menyatakan bahwa filsafat adalah the atemp to answer ultimate question critically (Joe Park, Selected Reading in the Philosophy of Education, 1960:10). D. C. Mulder (Pembimbing ke Dalam Ilmu Filsafat, 1966: 10) mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan. William james (Encyclopedia of Philosophy, 1967:219) menyimpulkan bahwa filsafat ialah a collective name for question which have asked them. Namun dengan mengatakan bahwa filsafat ialah hasil pemikiran yang hanya logis, kita telah menyebutkan intisari filsafat. Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan logis dan tidak empiris. Filsafat terdiri atas tiga cabang besar yaitu: ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ketiga cabang itu sebenarnya merupakan satu kesatuan :

Epistimologi Pengetahuan Filsafat
Epistimologi filsafat membicarakan tiga hal, yaitu objek filsafat (yaitu yang dipikirkan), cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan) filsafat. Istilah Epistemologi di dalam bahasa inggris di kenal dengan istilah “Theory of knowledge”. Epistemologi berasal dari asal kata “episteme” dan ”logos”. Epistime berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Dalam rumusan yang lebih rinci di sebutkan bahwa epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalan dan radikal tentang asal mula pengetahuan, structure, metode, dan validitas pengetahuan. Dalam rumusan lain di sdebutkan bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari soal tentang watak,batas –batas dan berlakunyailmu pengetahuan: demikian rumusan yang di ajukan oleh J.A.N. Mulder. Sebenarnya banyak ahli filsafat (filosof) maupun sarjana filsafat yang merumuskan tentang epistemologi atau filsafat pengetahuan. Apabila keseluruhan rumusan tersebut di renungkan maka dapat di fahami bahwa prinsipnya epistemologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas – batas, sifat metode dan keahlian pengetahuan. Oleh karena itu sistematika penulisan epitemologi adalah terjadinya pengetahuan,teori kebenaran, metode – metode ilmiah dan aliran – aliran teori pengetahuan.
Terjadinya Pengetahuan
Proses terjadinya pengetahuan menjadi masalah mendasar dalam epistemologi sebab hal ini akan mewarnai pemikiran kefilsafatannya. Pandangan yang sederhana dalam memikirkan proses terjadinya pengetahuan yaitu dalam sifatnya baik a priori maupun a posteriori. Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang terjadi tanpa adanya atau melalui pengalaman, baik pengalaman indra maupun pengalaman batin. Sedangkan a posteriori adalah pengetahuan yang terjadi karena adanya pengalaman. Di dalam mengetahui memerlukan alat yaitu: pengalaman indra (sence experience); nalar (reason); otoritas (authority); intuisi (intitution); wahyu (revelation); dan keyakinan (faith). Sepanjang sejarah kefilsafatan alat – alat untuk mengetahui tersebut memiliki peranan masing – masing baik secara sendiri – sendiri maupun berpasangan satu sama lain tergantung kepada filosof atau faham yang di anutnya. Dalam hal ini dapat di lihat bukti – bukti sebagai berikut :
Pengetahuan di dapatkan dari pengamatan. Di dalam pengamatan indrawi tidak dapat di tetapkan apa yang subjektif dan apa yang objektif. Jika kesan–kesan subjektif di anggap sebagai kebenaran, hal itu mengakibatkan adanya gambaran–gambaran yang kacau di dalam imajinasi. Segala pengetahuan di mulai dengan gambaran–gambaran indrawi. Gambaran–gambaran itu kemudian di tingkatkan sampai kepada tingkatan–tingkatan yang lebih tinggi, yaitu pengetahuan rasional dan pengetahuan intuitif. Di dalam pengetahuan rasional orang hanya mengambil kesimpulan–kesimpulan, tetapi di dalam pengetahuan intuitif orang memandang kepada idea–idea yang berkaitan dengan Allah. Disini orang di masukkan ke dalam keharusan ilahi yang kekal. Demikian menurut Baruch Spinoza sebagai salah seorang tokoh Resiesinalisme. Pandangan Spinoza agak berbeda dengan pandangan Thomas Hobbes sebagai salah seorang tokoh empirisme yang hidup pada tahun 1588 -1679. Menurutnya pengenalan atau pengetahuan di peroleh karena pengalaman. Pengalaman adalah awal segala pengetahuan. Juga awal pengetahuan tentang asas–asas yang di peroleh dan di teguhkan oleh pengalaman. Segala ilmu pengetahuan di turunkan dari pengalaman. Hanya pengalamanlah yang memberi jaminan akan kepastian.
Pengalaman dengan akal hanya mempunyai fungsi mekanisme semata – mata sebab pengenalan dengan akal mewujudkan suatu proses penjumlahan dan pengurangan. Pengenalan dengan akal mukai dengan memakai kata–kata ( pengertian–pengertian), yang hanya mewujudkan tanda–tanda yang menurut adat saja, dan menjadikan roh manusia dapat memiliki gambaran dari hal – hal yang di ucapkan dengan kata–kata itu. Pengertian–pengertian umum hanyalah nama saja, yaitu nama–nama bagi gambaran–ganbaran ingatan tersebut, bukan nama–nama bendanya. Nama–nama itu tidak mempunyai nilai objektif. Pendapat atau pertimbangan adalah penggabungan dua nama, sedang silogisme adalah suatu soal hitung, di mana orang bekerja dengan tiga nama. Yang di sebut pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas segala pengamatan, yang di simpan di dalam ingatan dan di tentukan dengan suatu pengharapan akan masa depan, sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa yang lampau. Pengamatan inderawi terjadi karena gerak benda – benda di luar kita menyebabkan adanya suatu gerak di dalam indera kita. Gerak ini di teruskan kepada otak dan dari otak di teruskan ke jantung. Di dalam jantung timbulah suatu reaksi suatu gerak dalam jurusan yang sebaliknya. Pengmatan yang sebenarnya terjadi pada awal gerak reaksi tadi.
Sasaran yang diamati adalah sifat–sifat inderawi. Penginderaan disebabkan karena tekanan objek atau sasaran. Kualitas di dalam objek–objek, yang sesuai dengan penginderaan kita, bergerak menekan indera kita. Warna yang kita lihat, suara yang kita dengar, bukan berada di dalam objek, melainkan di dalam subjeknya. Sifat sifat inderawi tidak memberi gambaran tentang sebab yang menimbulkan penginderaan. Ingatan, rasa senang dan todak senang dan segala gejala jiwani, bersandar semata–mata pada asosiasi gambaran–gambaran yang murni bersifat mekanis. Sementara itu salah seorang tokoh empirisme yang lain berpendapat bahwa segala pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak lebih dari itu. Akal (rasio) adalah pasif pada waktu pengetahuan di dapatkan. Akal tidak melahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri. Semula akal serupa dengan secarik kertas yang tanpa tulisan, yang menerima segala sesuatu yang datang dari pengalaman. Locke tidak membedakan antara pengetahuan inderawi dan pengetahuan akalis.  Satu – satunya sasaran atau objek pengetahuan adalah gagasan – gagasan atau ide – ide yang timbulnya karena pengalaman lahiriah (sensation) dan karena pengalaman bathiniah ( reflection). Pengalamn lahiriah mengajarkan kepada kita tentang hal – hal yang di luar kita, sedangkan pengalaman batiniah mengajarkan tentang keadaan – keadaan psikis kita sendiri. Kedua macam pengalaman ini jalin menjalin. Pengalaman lahiriah menghasilkan gejala–gejala psikis yang harus di tanggapi oleh pengalaman batiniah. Objek–objek pengalaman lahiriah itu mula – mula menjadi isi pengalaman, karena di hisapkan oleh pengalaman bathiniah, artinya objek – objek itu tampil dalam kesadaran. Dengan demikian menganal adalah identik dengan mengenal secara sadar. Dalam hal ini Locke sama dengan Descrates. Segala sesuatu yang berada di luar kita menimbulkan didalam diri kita gagasan – gagasan dari pengalaman lahiriah. Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya, yang terdalam. Jika hasil pemikiran itu disusun, maka susunan itulah yang kita sebut Sistematika Filsafat. Sistematika atau struktur filsafat dalam garis besar terdiri atas ontologi, epistimologi dan aksiologi. Isi setiap cabang filsafat ditentukan oleh objek apa yang diteliti (dipikirkan)-nya. Jika ia memikirkan pendidikan maka jadilah Filsafat Pendidikan. Jika ia memikirkan hukum maka jadilah Filsafata Hukum, dan lain sebagainya. Inilah objek filsafat. Objek penelitian filsafat lebih luas dari objek penelitian sains. Sains hanya meneliti objek yang ada, sedangkan filsafat meneliti objek yang ada dan mungkin ada. Sebenarnya masih ada objek lain yang disebut objek forma yang menjelaskan sifat kemendalaman penelitian filsafat.

Cara Memperoleh Pengetahuan Filsafat
Pertama-tama filosof harus membicarakan (mempertanggung jawabkan) cara mereka memperoleh pengetahuan filsafat. Yang menyebabkan kita hormat kepada para filosof antara lain ialah karena ketelitian mereka sebelum mencari pengetahuan mereka membicarakan dan mempertanggungjawabkannya lebih dahulu cara memperoleh pengetahuan tersebut. Sifat itu sering kurang dipedulikan oleh kebanyakan orang. Pada umumnya orang mementingkan apa yang diperoleh atau diketahui, bukan cara memperoleh atau mengetahuinya. Ini gegabah, para filosof bukan orang yang gegabah. Berfilsafat ialah berfikir. Berfikir itu tentu menggunakan akal. Menjadi persoalan, apa sebenarnya akal itu. John Locke (Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, II, 1973:111) mempersoalkan hal ini. Ia melihat, pada zamannya akal telah digunakan secara terlalu bebas, telah digunakan sampai diluar batas kemampuan akal. Hasilnya ialah kekacauan pemikiran pada masa itu. Manusia memperoleh pengetahuan filsafat dengan berpikir secara mendalam tentang sesuatu yang abstrak. Mungkin juga objek pemikirannya sesuatu yang konjret, tetapi yang hendak diketahuinya ialah bagian “di belakang” objek konkret itu. Dus abstrak juga.
Secara mendalam artinya ia hendak mengetahui bagian yang abstrak sesuatu itu, ia ingin mengetahui sedalam-dalamnya. Dikatakan mendalam tatkala ia sudah berhenti smpai tanda tanya. Dia tidak dapat maju lagi, di situlah orang berhenti, dan ia telah mengetahui sesuatu itu secara mendalam. Jadi jelas, mendalam bagi seseorang belum tentu mendalam bagi orang lain.
Ukuran Kebenaran Filsafat
Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis tidak empiris. Pernyataan ini menjelaskan bahwa ukuran kebenaran filsafat itu ialah logis tidaknya pengetahuan itu. Bila logis berarti benar dan bila tidak logis berarti salah. Ada hal yang patut diingat. Kita tidak boleh menuntut bukti empiris untuk membuktukan kebenaran filsafat. Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis dan tidak empiris. Bila logis dan tidak empiris itu adalah pengetahuan sains. Kebenaran teori filsafat ditentukan oleh logis dan tidaknya teori itu. Ukuran logis dan tidaknya tersebut akan terlihat pada argumen yang menghasilkan kesimpulan teori itu. Fungsi argumen dalam filsafat sangatlah penting, sama dengan fungsi data pada pengetahuan sains. Bobot teori filsafat justru terletak pada kekuatan argumen bukan pada kekuatan konklusi. Karena argumen itu menjadi kesatuan dengan konklusi, maka boleh juga diterima pendapat yang mengatakan bahwa filsafat itu argumen. Kebenaran konklusi ditentukan oleh argumennya.

Aksiologi Pengetahuan Filsafat
Dalam aksiologi diuraikan dua hal, yang pertama tentang kegunaan pengetahuan filsafat dan yang kedua tentang cara filsafat menyelesaikan masalah. Ilmu merupakan sesuatu yang paling penting bagi manusia, karena dengan ilmu semua keperluan dan kebutuhan manusia bisa terpenuhi secara lebih cepat dan lebih mudah. Dan merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu. singkatnya ilmu merupakan sarana untuk mencapai tujuan hidupnya. Untuk mengetahui kegunaan filsafat, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori filsafat, kedua filsafat sebagai metode pemecahan masalah, dan ketiga filsafat sebagai pandangan hidup (philosophy of life). Mengetahui teori-teori filsafat amat perlu karena dunia dibentuk oleh teori-teori itu. Jika anda tidak senang pada komunisme maka anda harus mengetahui Marxsisme, karena teori filsafat untuk komunisme itu ada dalam Maxsisme. Jika anda menyenangi ajaran syi’äh Dua Belas di Iran, maka anda hendaknya mengetahui filsafat Mulla Shadra. Begitulah kira-kira. Dan jika anda hendak membenuk dunia, baik dunia besar maupun dunia kecil (diri sendiri), maka anda tidak dapat mengelak dari penggunaan teori filsafat. Jadi, mengetahui teori-teori filsafat amatlah perlu. Filsafat sebagai teori filsafat juga perlu dipelajari oleh orang yang akan menjadi  pengajar dalam bidang filsafat. Yang amat penting juga ialah filsafat sebagai methodology, yaitu cara memecahkan masalah yang dihadapi. Disini filsafat digunakan sebagai satu cara atau model pemecahan masalah secara mendalam dan universal. Filsafat selalu mencari sebab terakhir dan dari sudut pandang seluas-luasnya. Hal ini diuraikan pada bagian lain sesudah ini.

Cara Filsafat Menyelesaikan Masalah
Kegunaan filsafat yang lain ialah sebagai methodology, maksudnya sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam memandang dunia ( world view). Dalam hidup kita banyak menghadapi masalah. Masalah artinya kesulitan. Kehidupan akan lebih enak jika masalah itu terselesaikan. Ada banyak cara dalam menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana sampai yang rumit. Sesuai dengan sifatnya, filsafat menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal. Penyelesaian filsafat bersifat mendalam, artinya ia ingin mencari asal masalah. Universal artinya filsafat ingin masalah itu dilihat dalam hubungan seluas-luasnya agar nantinya penyelesaian itu cepat dan berakibat seluas mungkin.

Kesimpulan
Ontologi filsafat membicarakan hakikat filsafat, yaitu apa pengetahuan filsafat itu sebenarnya. Struktur filsafat dibahas juga disini. Yang dimaksud struktur filsafat disini ialah cabang-cabang filsafat serta isi (yaitu teori) dalam setiap cabang itu. Yang dibicarakan disini hanyalah cabang-cabang saja, itupun hanya sebagian. Teori dalam setiap cabang tentu sangat banyak dan itu tidak dibicarakan disini. Struktur dalam arti cabang-cabang filsafat sering juga disebut sistematika filsafat.
Di dalam pemahaman ontology dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut: Monoisme, Dualisme, Pluralisme, Nihilisme, dan Agnostisisme. Epistimologi filsafat membicarakan tiga hal, yaitu objek filsafat (yaitu yang dipikirkan), cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan) filsafat. Istilah Epistemologi di dalam bahasa inggris di kenal dengan istilah “Theory of knowledge”. Epistemologi berasal dari asal kata “episteme” dan ”logos”. Epistime berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Dalam rumusan yang lebih rinci di sebutkan bahwa epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalan dan radikal tentang asal mula pengetahuan, structure, metode, dan validitas pengetahuan. Pengetahuan di dapatkan dari pengamatan. Di dalam pengamatan indrawi tidak dapat di tetapkan apa yang subjektif dan apa yang objektif. Jika kesan–kesan subjektif di anggap sebagai kebenaran, hal itu mengakibatkan adanya gambaran–gambaran yang kacau di dalam imajinasi. Segala pengetahuan di mulai dengan gambaran–gambaran indrawi. Gambaran–gambaran itu kemudian di tingkatkan sampai kepada tingkatan–tingkatan yang lebih tinggi, yaitu pengetahuan rasional dan pengetahuan intuitif. Di dalam pengetahuan rasional orang hanya mengambil kesimpulan–kesimpulan, tetapi di dalam pengetahuan intuitif orang memandang kepada idea–idea yang berkaitan dengan Allah. Disini orang di masukkan ke dalam keharusan ilahi yang kekal. Demikian menurut Baruch Spinoza sebagai salah seorang tokoh Resiesinalisme. Kegunaan filsafat yang lain ialah sebagai methodology, maksudnya sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam memandang dunia ( world view). Dalam hidup kita banyak menghadapi masalah. Masalah artinya kesulitan. Kehidupan akan lebih enak jika masalah itu terselesaikan. Ada banyak cara dalam menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana sampai yang rumit. Sesuai dengan sifatnya, filsafat menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal. Penyelesaian filsafat bersifat mendalam, artinya ia ingin mencari asal masalah. Universal artinya filsafat ingin masalah itu dilihat dalam hubungan seluas-luasnya agar nantinya penyelesaian itu cepat dan berakibat seluas mungkin.

TUGAS CIRI-CIRI, SIFAT DASAR, KEGUNAAN, DAN PANDANGAN FILSAFAT TENTANG MANUSIA
A. CIRI-CIRI FILSAFAT
Ciri-ciri filsafat menurut Drs. Asmoro Asmadi (Asmoro, Asmadi;129):
Ø  Sangat umum
Ø  Tidak faktual artinya membuat dugaan-dugaan yang masuk akal dengan tidak berdasarkan pada bukti  tetapi bukan berarti tidak ilmiah
Ø  Bersangkutan dengan nilai  dimana penilaian yang dimaksud adalah yang baik dan buruk yang susila dan asusila
Ø  Berkaitan dengan arti
Ø  Implikatif
Ø  Menyeluruh


B. SIFAT DASAR FILSAFAT
Sifat dasar filsafat (Simon, 2003):
Ø  Berfikir radikal
Ø  Berfikir rasional; tahu & paham dengan akal budi
Ø  Mencari asas
Ø  Mencari kebenaran
Ø  Mencari kejelasan

C. KEGUNAAN FILSAFAT
Pada umumnya dapat dikatakan bahawa dengan belajar filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menangani berbagai pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metodis ilmu-ilmu khusus. Jadi filsafat membantu untuk mendalami  berbagai pertanyaan asasi manusia tentang makna realitas dan lingkup tanggung jawabnya. Kemampuan itu dipelajarinya dari dua jalur yakni secara sistematis dan historis.
Menambah ilmu pengetahuan sehingga dapat membantu menyelesaikan masalah dengan bijaksana, membuat manusia lebih hidup lebih tanggap (peka) terhadap diri dan lingkungannya, membantu manusia untuk mengetahui mana yang pantas ditolak dan mana yang pantas disetujui.
Kegunaan filsafat ialah untuk memperoleh pengertian (makna) dan untuk menjelaskan gejala atau peristiwa alam dan sosial. Itu berarti orang yang berfilsafat harus berpikir obyektif atas hal-hal yang obyektif, bukan menghayal.
Orang berfilsafat harus mampu menjelaskan hubungan antara sebab dan akibat, antara bentuk dan isi, antara gejala dan hakikat, kekhususan dan keumuman, kebetulan dan keharusan.

D. PANDANGAN FILSAFAT TENTANG MANUSIA
Pandangan Descartes (1596-1650) sebagai bapak filsafat Modern yang menempatkan manusia dengan segala kemampuan rasionalnya sebagai subject yang sentral dalam pemecaham masalah dunia. Rasionalitas menjadi ukuran tunggal kebenaran, tolak ukur dari segala sesuatu. Jadi pandangan descartes terhadap manusia adalah Humanisme atau antroposenterisme. Ia memandang positif kepada diri dan rasio manusia dalam membangun dunia kearah yang lebih baik. Descartes mewakili semangat zamannya yakni Modernisme yang memandang cerah masa depan umat manusia seiring dengan bergulirnya renaissance. Manusia adalah mahluk yang berakal dan bertanggung jawab dengan akalnya. Pandangan descartes terhadap manusia adalah positif ia memandang jiwa manusia pada dasarnya baik karena didominasi oleh fungsi akal atau intelek.
Arthur Scopenheour (1788-1868) mengemukakan pendapat yang berlawanan, ia adalah seorang filosof pesimistis. Berlawanan  dengan  filosof-filosof sebelumnya seperti Descartes yang menyatakan bahwa  hakikat jiwa manusia adalah intelek atau rasio. Scopenheour mengkritik pandangan tersebut yang dianggapnya terlalu menyembunyikan sisi gelap dari diri manusia. Ia beranggapan bahwa rasio dan kesadaran pada hakikatnya hanyalah permukaan dari jiwa kita. Dibawah intelek/rasio terdapat kehendak(nafsu) yang tidak sadar. Suatu Daya atau kekuatan hidup yang abadi, suatu kehendak dari keinginan yang kuat. Rasio kadang-kadang memang mengendalikan kehendak namun hanya sebagai pembantu yang mendorong tuannya.  “kehendak adalah orang kuat yang buta yang menggendong orang lumpuh yang melek (rasio). Intinya kehendak (nafsu) merupakan pusat dari organ fikiran. Artinya hati dan bukan kepala yang berkuasa. Ia memandang bahwa terjadinya perang dalam setiap episode sejarah dan banyaknya pembunuhan dan kejahatan merupakan bukti bahwa rasio manusia merupakan alat dari kehendak buta (nafsu). Sehingga ia berpandangan pesimis terhadap masa depan umat manusia yang akan cerah dan baik. Ia lebih cenderung melihat masa depan umat manusia suram dan gelap dengan banyak pertumpahan darah dan kekerasan. Filsafat Scopenheour merupakan filsafat yang kelam dan pesimis yang menafikan dan meniadakan unsur dan potensi kebaikan yang besar dalam diri manusia. Pandangannya terlalu berat sebelah kepada sisi negatif manusia.