SELAMAT MEMBACA SOBAT... SEMOGA BERMANFAAT AMIIN... BB : 542B97DF

Rabu, 28 Mei 2014

Tafsir Q.S. Al-lahab

MAKALAH
TAFSIR QURAN SURAT AL-LAHAB


DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 5            : ANGGA ABDUL MALIK
                                                           ARSELAWATI
                                                           DAMAYANTI
Mata kuliah                  : TAFSIR TARBAWI
PRODI                          : Manajemen Pendidikan Islam
SEMESTER                 : II (DUA)

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
FAKULTAS AGAMA ISLAM

2014

TAFSIR Q.S. AL-LAHAB AYAT 1-5; DIRASAH TAHLILIYAH
A.    MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Fath. Nama Al Lahab diambil dari kata Al Lahab yang terdapat pada ayat ketiga surat ini yang artinya gejolak api. Surat ini juga dinamakan surat Al Masad (sabut penjerat).
Pokok-pokok isinya: Cerita Abu Lahab dan isterinya yang menentang Rasulullah s.a.w. Keduanya akan celaka dan masuk neraka. Harta Abu Lahab, tak berguna untuk keselamatannya demikian pula segala usaha-usahanya.
Al-Biqa’i menegaskan bahwa tujuan utama suarah ini adalah memastikan kerugian sang kafir walaupun dia adalah orang yang paling dekat hubungan kerabatnya kepada manusia yang paling beruntung ( Nabi Muhammad SAW ). Ini menunjukkan bahwa Allah yang menetapkan ajaran agama yang menyandang keagungan yang tidak dapat dilukiskan. Dia melakukan apa yang dia kehendaki, karena tidak ada yang serupa dengann-Nya. Itu untuk mendorong manusia meyakini ajaran Tauhid. ( Al-Mishbah : 2002 : 595 )

A.    TEKS AYAT DAN TERJEMAH
تَبَّتْ يَدَااَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّ (۱) مَااَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَاكَسَبَ (۲) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (۳) وَّامْرَاَتُهُ حَمَّا لَةَ الْحَطَبِ (٤) فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ (٥)
1.      Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia!
2.      Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan.
3.      Kelak dia akan masuk kedalam api yang bergejolak (neraka).
4.      Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (pembawa fitnah).
5.      Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.
A.    KAJIAN KOSA KATA
1.      At-tabat artinya hancur dan merugi. Maksud ayat ini adalah             : تبت يدا ابي لهب  Abu Lahab merugi dan binasa.
2.      Ia akan mendapati panasnya dan akan merasakannya.                       : سيصلى 
3.      Apakah kayu bakar yang dimaksudkan di sini? Memang                  : حما لة الحطب
Arwa binti harbin Umayyah saudara perempuan abu sufyan
dan istri abu lahab itu benar-benar membawa kayu bakar.
atau apakah yang dimaksudkan karena dia seorang wanita
yang berbuat onar dan kerusakan. Ungakapan pada ayat ini
merupakan kiasan un untuk perbuatannya ini.
4.      Tali untuk mengikat                                                                            : مسد



A.    ASBABUNNUZUL DAN MUNASABAH SURAT
Suatu ketika Rasulullah SAW mendaki bukit shafa di Mekkah, untuk berseru mengisyaratkan akan adanya bahaya yang mengancam. Maka berkumpullah sejumlah penduduk Mekkah termasuk Abu Lahab. Nabi SAW antara lain bersabda: “Seandainya aku menyampaikan kepada kamu bahwa akan ada musuh yang menyerang di pagi atau sore hari, apakah kamu akan mempercayaiku?” Mereka menjawab bahwa: “Kami tidak pernah mengetahiu kamu berbohong”. Nabi SAW kemudian menjelaskan kepada mereka tentang ancamam hari Akhir yang akan mereka hadapi , jika mereka mengabaikan  tuntunan Allah. Mendengar itu Abu Lahab berseru: “Binasalah engkau sepanjang hari! Apakah untuk itu engkau mengumpulkan kami?” Maka turunlah surah ini. ( Al-Mishbah : 2002 : 596 )
Peristiwa diatas diperkirakan terjadi pada tahun IV setelah kenabian. Ada juga yang meriwayatkan bahwa suatu ketika Abu Lahab datang kepada Nabi bertanya apa yang akan diperoleh jika dia memeluk Islam ? Nabi menjawab: “Seperti yang diperoleh kaum muslimin” Abu Jahl menjawab: “Celakalah agama ini, bila aku dipersamakan dengan mereka”. Maka turunlah ayat ini. ( Al-Mishbah : 2002 : 596 )
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa istri Abu Lahab menyebarkan duri-duri di tempat yang akan dilalui Nabi SAW. Ayat ini ( Q.S. Al-Lahab : 1-4 ) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan bahwa orang yang menghalang-halangi dan menyebarkan permusuhan terhadap Islam akan mendapat Siksaan Allah. (ASbabun Nuzul : 2002 : 688 )
Adapun munasabah surah Al-Lahab dengan surah sebelumnya yaitu surah An-Nasr bahwa menerangkan tentang kemenangan yang diperoleh Nabi Muhammad SAW dan pengikut-pengikutnya. Sementara pada surah ini Allah menjelaskan tentang kebinasaan dan siksaan yang akan diderita oleh Abu Lahab dan istrinya sebagai orang-orang yang menentang Nabi Muhammad SAW. Dan munasabah surah ini dengan surah sesudahnya yaitu surah Al-Ikhlas yang mengemukakan  bahwa Tauhid dalam Islam adalah Tauhid yang semurni-murninya. ( Al-‘Usyr Al-Akhir : - : 75 )

A.    PEMBAHASAN TAFSIR Q.S. AL-LAHAB
تَبَّتْ يَدَااَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّ (۱)
“binasalah kedua tangan abu lahabdan benar-benar binasa dia!
(تَبَّتْ) maksudnya adalah kebinasaan dan kerugian besar, sesatlah perbuatannya dan apa yang ia kerjakan. Sedangkan (وَتَبَّ) maksudnya sungguh telah merugi/binasa dan kebinasaannya serta kehancurannya benar-benar terjadi. Allah ‘Azza wa Jalla memulai firmanNya dengan menyebutkan (تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ) “Binasalah kedua tangan Abu Lahab” sebelum menyebutkan diri Abu Lahab karena tanganlah yang digunakan untuk berbuat, bekerja, mengambil sesuatu dan memberinya.


مَااَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَاكَسَبَ (۲)
“Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan”
Huruf (مَا) dalam ayat ini adalah adalah huruf (مَا) istifhamiyah/pertanyaan sehingga maknanya ‘apakah ada manfaat harta dan apa yang ia usahakan ?’ maka jawabannya adalah tidak sama sekali. Huruf (مَا) juga dapat bermakna nafiyah/penolakan. Sehingga maknanya tidak bermanfaat baginya harta dan apa yang ia usahakan. Kedua makna ini saling berkaitan, harta yang dimiliki dan apa yang ia usahakan tidak bermanfaat sedikitpun baginya padahal menurut kebiasaan bahwa harta dan apa yang ia usahakan memberikan manfaat bagi pemiliknya. Walaupun demikian apa yang ia miliki tidaklah dapat menyelamatkannya dari siksa neraka. Sebagian ulama menafsirkan (مَا كَسَبَ) “apa yang dia usahakan” dengan anak. Sehingga maknanya “tidaklah bermanfaat baginya harta dan anaknya”. Yang lebih tepat bahwa ayat menunjukkan keumuman sehingga termasuk di dalamnya anak, harta yang diusahakan, kemuliaan dan kedudukan yang berusaha ia raih. Sehingga seluruh yang ia usahakan baik berupa kemuliaan dan kewibawaan maka itu semua tidak bermanfaat sedikitpun untuk menyelamatkannya dari neraka.

سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (۳)
“Kelak dia akan masuk kedalam api yang bergejolak (neraka)”
Huruf sin (س) pada kata (سَيَصْلَى) merupakan tanfis yang menunjukkan akan benar-benar terjadi dan dalam waktu yang dekat. Maksudnya Abu Lahab akan benar-benar dimasukkan ke neraka yang bergejolak dalam waktu yang dekat. Karena selama apapun seseorang hidup di dunia jika dibandingkan dengan akhirat maka hal itu akan sangat dekat/singkat12.
Disebutkan bahwa sebelum meninggalnya Abu Lahab diserang penyakit yang sangat akut. Penyakit tersebut adalah penyakit yang disebut (العدسة) sejenis bisul. Pada saat itu orang arab sangat menjauhi orang yang terkena penyakit ini sebagaimana mereka menjauhi orang yang terkena penyakittha’un/pes. Sehingga ketika dia telah meninggal tidak ada seorangpun yang sanggup memandikannya hingga pada hari ketiga, anaknya mengguyur jasadnya dari kejauhan.

وَّامْرَاَتُهُ حَمَّا لَةَ الْحَطَبِ (٤)
“Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (pembawa fitnah)”
Istri Abu Lahab merupakan salah seorang wanita terpandang di kalangan Quraisy*. Dia adalah Ummu Jamiil namanya Arwaa bintu Harbu bin ‘Ummayyah. Dia adalah saudara perempuan Abu Sufyan. Istri Abu Lahab ini termasuk orang yang membantunya dalam kekafiran dan penentangannya kepada risalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Oleh karena itulah dia kelak akan bersama suaminya di hari qiyamat di dalam adzab neraka jahannam.
(حَمَّالَةَ) merupakan bentuk sighah muballaghah yang menunjukkan banyak. Disebutkan bahwa ia membawa banyak kayu berduri yang akan diletakkan di jalan yang dilalui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan tujuan untuk mengganggu beliau.

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ (٥)
“Dilehernya ada tali dari sabut yang dipintal”
Yakni dia pergi ke gurun dengan membawa tali dari sabut untuk membawa kayu-kayu berduri yang akan ia letakkan di jalan yang dilalui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Jika kita lihat dengan teliti berdasarkan penafsiran di atas terlihat bertapa istri Abu Lahab ini memiliki tekad yang sangat kuat untuk menganggu dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam karena ia rela mengorbankan dirinya dengan segala kehormatan yang dimilikinya. Namun demikian ia tanggalkan semuanya demi mengganggu dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan membantu suaminya. Diriwayatkan dari Ats Tsauriy Rahimahullah, beliau mengatakan (حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ), “Adalah kalung dari api, yang panjangnya 70 hasta”.

A.    HIKMAH TARBIYAH
Dalam surat Al- Lahab ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik, diantaranya:
1. Surat ini merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Dimana Allah menurunkan surat ini dalam kondisi Abu Lahab dan istrinya masih hidup, sementara keduanya telah divonis sebagai orang yang akan disiksa didalam api neraka, yang konsekuensinya mereka berdua tidak akan menjadi orang yang beriman. Dan apa yang dikabarkan Allah subhanahu wata’ala Dzat Yang Maha Mengetahui perkara yang gaib pasti terjadi.
2. Tidak berguna sedikitpun harta benda (untuk melindungi) seseorang dari azab Allah ketika ia melakukan perbuatan yang mendatangkan murka Allah subhanahu wata’ala.
3. Haramnya menganggu orang beriman secara mutlak.
4. Tidak bermanfaat sedikitpun hubungan kekerabatan seorang musyrik, dimana Abu Lahab adalah pamannya Nabi tetapi ia di dalam neraka.
5. Hubungan kekeluargaan dapat bermanfaat jika itu dibangun di atas keimanan. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Lahab punya kedekatan dalam kekerabatan, namun hal itu tidak bermanfaat bagi Abu Lahab karena ia tidak beriman.
6. Tidak bermanfaatnya harta dan keturunan bagi orang yang tidak beriman, namun sebenarnya harta dan keturunan dapat membawa manfaat jika seseorang itu beriman.
7. Bahaya saling tolong menolong dalam kejelekan sebagaimana dapat dilihat dari kisah Ummu Jamil yang membantu suaminya untuk menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.


PENUTUP
Demikian surah ini menggambarkan kesudahan yang dialami oleh salah seorang yang memusuhi Nabi saw. dan demikian pula yang akan oleh setiap yang memusuhi Nabi Muhammad saw.
REFERENSI
-          M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Bandung: Mizan, 2002
-          Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, Tafsir Juz ‘Amma
-          HR. Bukhari no. 4972 dan Muslim no. 208.
-          Shahih Tafsir Ibnu Katsir hal. 701/IV 

Jumat, 16 Mei 2014

Tasawuf

MAKALAH
TASAWUF MEMPERKUAT SIKAP IHTIYAR DAN TAWAKAL


DI SUSUN OLEH:
KELOMPOK 2            : ANGGA ABDUL MALIK
                                                           DAMAYANTI
                                                           ARSELAWATI
Mata Kuliah                 : AKHLAK TASAWUF
PRODI                          : Manajemen Pendidikan Islam
SEMESTER                 : II (DUA)

FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

2014


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Berbicara tentang tasawuf sering timbul pertanyaan, benarkah bahwa hidup secara sufi berarti “melepaskan diri dari dunia?”. Nampaknya inilah citra umum yang kita miliki. Mereka orang-orang sufi memang mempunyai orientasi ke arah dunia yang lain. Nasr mengatakan bahwa “oleh itu ia(tasawuf) serupa dengan nafas yang memberikan hidup. Tasawuf telah memberikan semangat pada seluruh struktur islam, baik dalam perwujudan social maupun intelektual. 
Tasawuf secara umum merupakan falsafah hidup dan cara tertentu dalam tingkah laku manusia dalam upayanya merealisasikan kesempurnaan moral, pemahaman tentang hakikat realitas dan kebahagiaan rohaniah.
Sedangkan ihtiyar dan tawakal adalah sikap manusia untuk berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada untuk meraih suatu harapan dan keingina yang dicita-citakan, dan dapat juga diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh yang dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. 
Sehingga hubungan tasawuf dengan sikap ihtiyar dan tawakal adalah Agama mengajarkan manusia untuk berusaha sungguh-sungguh dengan menempuh jalan yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu yang berlaku dalam bidang yang diusahakan, dengan disertai doa kepada Allah agar usahanya itu berhasil. Lalu bersandar dan mempercayakan diri kepada Allah, atau menyerahkan sepenuhnya hasil ikhtiar tersebut kepada Allah SWT.

B. Rumusan masalah
Rumusan masalah makalah ini adalah:
Apa yang di maksud tasawuf?
Apa pengertian ihtiyar dan tawakal?
Bagaimana hubungan tasawuf dengan sikap ihtiyar dan tawakal?

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian tasawuf
Secara Etimologi (Bahasa)
Ada beberapa pendapat tentang kata Tasawuf :

Dr Abu al-Wafa ‘ al-Ghanimi at-Taftazani:
Kata tasawuf yang berkaitan dengan kata sufi hanyalah merupakan sebutan atau gelar, dan tidak terdapat dalam akar kata bahasa arab.

Dr. Zaky Mubarok:
Kata tasawuf tidak dapat dipastikan dari mana asalnya. Kata tasawuf mungkin dari berasal dari kata ash-shuf, yang artinya bulu,. Karena orang-orang sufi itu pada umumnya mencirikan dirinya dengan memakai pakaina dari bulu domba.

Prof. Dr. Harun Nasution:
Shuf adalah kain yang terbuat dari bulu atau disebut wol. Hanya kain wol yang dipakai kaum sufi adalah wol yang kasar yang merupakan simbol kesederhanaan.Ash- Shuffah , nama serambi Masjid Nabawi di Madinah yang biasanya ditempati oleh orang- orang fakir dari golongan Muhajirin dan Anshar yang ikut berhijrah bersama Nabi. Karena  meninggalkan harta bendanya maka mereka tidak mempunyai apa-apa lagi. Mereka tinggal di serambi masjid dan tidu diatas pelana kuda yang disebut suffah,olehkarena itu mereka dijuluki ahl-suffah. Kendati mereka miskin namun mereka berhati mulia. Tasawuf berasal dari kata shafa’ yang artinya suci, Jadi maksudnya adalah mereka itu menyucikan dirinya melalui latihan, yang kita sebut riyadhah.

Menurut al-Qusyairi dan AT-Thusy:
Tasawuf berasal dari kata ash-shaff, yang dinisbatkan kepada orang-orang yang ketika sholat berada di shaf terdepan. Sebagaimana orang yang berada di shaf pertama dalam jamaah sholat itu mendapatkan kemuliaan, maka orang-orang penganut tasawuf ini dimuliakan oleh allah.

Kata Tasawuf berasal dari kata ash-Shifah yang artinuya sifat, dimana orang-orang penganut tasawuf itu lebih mementingkan sifat-sifat mahmudah (terpuji) dan meninggalkan sifat-sifat tercela (madzmumah)



Secara Terminologi
Beberapa pendapat para ahli tentang istilah tasawuf:

Syaikh Ibn Ajiba (pensyarah kitab al-Hikam):
Taswauf ialah ilmu yang membawa anda agar bersama Tuhan Yang Maha Esa, melalui penyucian batin dan memepermanis dengan amal shaleh. Jalan tasawuf diawali dengan ilmu, tengahnya amal, dan akhirnya adalah karunia Ilahi.
Sayyed Hossein Nasr:
Tasawuf ialah melatih upaya jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan manusia dari pengaruh kehidupan duniawi dan mendekatkanya kepada allah sehingga jiwanya bersih serta memancarkan akhlak mulia.
 
Abu al-Wafa’ al-Ghanimi at-Taftazani (Sufi dari zaman ke zama):
Tasawuf ialah sebuah pandangan filosofis terhadap kehidupan yang bertujuan mengembangkan moralitas jiwa manusia dan dapat direalisasikan melalui latihan-latihan praktis tertentu, sehingga perasaan menjadi larut dalam hakikat transendental. Pendekatan yang digunakan ialah dzauq (cita rasa) yang menghasilkan kebahagiaan spiritual. Pengalaman yang muncul pun tidak kuasa diekspresikan melalui bahasa, karena begitu emosional dan personal.
H. M. Amin Syukur (“Intelektualisme Tasawuf”):
Tasawuf ialah sistem latihan dengan kesungguhan (riyadhah mujahadah) untuk membersihkan, mempertinggi dan memeperdalam aspek kerohanian dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub) sehingga segala perhatian hanya tertuju kepadaNya.

Drs Samsul Munir Amin M.A.(Ilmu Tasawuf):
Tasawuf ialah usaha melatih jiwa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, yang dapat membebaskan manusia dari pengaruh kehidupan duniawi untuk bertaqarrub kepada Tuhan sehingga jiwanya menjadi bersih, mencerminkan akhlak mulia dalam kehidupan, dan menemukan kebahagiaan spiritualitas.

2. Pengertian ihtiyar dan tawakal
A. Pengertian ihtiyar
Kata ikhtiar berasal dari bahasa Arab (ikhtara-yakhtaru-ikhtiyaaran) yang berarti memilih. Ikhtiar diartikan berusaha karena pada hakikatnya orang yang berusaha berarti memilih.  Adapun menurut istilah, berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada untuk meraih suatu harapan dan keingina yang dicita-citakan, ikhtiyar juga juga dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh yang dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. 


·      Perintah untuk berihtiyar:
Surat Al-jumu’ah ayat 10
     Artinya: “Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”.

H.R. Al-bukhari
     Artinya: “Sungguh, jika salah seorang diantaramu membawa talinya (untuk mencari kayu bakar), kemudian ia kembali membawa seikat kayu diatas punggungnya, lalu ia jual sehingga Allah mencukupi kebutuhannya ( dengan hasil itu) adalah lebih baik dari pada meminta-minta kepada manusia, baik mereka memberi atau menolaknya.

·      Bentuk-bentuk ihtiyar
Sebagai muslim kita harus mengetahui bentuk-bentuk perilaku ihtiyar, agar dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya sebgai berikut:
a)      Mau bekerja keras dalam mencapai suatu harapan dan cita-cita
b)      Selalu bersemangat dalam menghadapi kehidupan.
c)      Tidak mudah menyerah dan putus asa.
d)     Disiplin dan penuh tanggung jawab.
e)      Giat bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.
f)       Rajin berlatih dan belajar agar bisa meraih apa yang diinginkannya. 

·      Dampak positif ihtiyar
Banyak nilai positif yang terkandung dalam perilaku ihtiyar, diantaranya sebagai berikut:
a)      Terhindar dari sikap malas
b)      Dapat mengambil hikmah dari setiap usaha yang dilakukannya.
c)      Memberikan contoh tauladan bagi orang lain.
d)      Mendapat kasih sayang dan ampuna dari Allah SWT.
e)       Merasa batinnya puas karena dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.
f)       Terhormat dalam pandangan Allah dan sesame manusia karena sikapnya.
g)      Dapat berlaku hemat dalam membelanjakan hartanya.

B. Pengertian Tawakal
Kata tawakkal berasal dari bahasa Arab yang artinya pasrah dan menyaerah. Secara istilah, tawakkal berarti sikap pasrah dan menyerah terhadap hasil suatu pekerjaan atau usaha dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT . Tawakkal dapat diberi pengertian berserah diri kepada Allah SWT setelah semua proses pekerjaan atau amalan lain sudah dilakkan secara optimal.  Tawakkal harus dilakukan setelah ada usaha dan kerja keras dengan menerahkan segala kemampuan yang dimiliki. Akan tetapi, ketika seseorang belum berusaha  secara optimal untuk mencapai suatu angan atau cita-citanya, kemudian ia pasrah atau berserah diri, maka orang tersebut belum dapat dikatakan tawakkal. Serahkan semua urusan hanya kepada Allah SWT, jangan menggantungkan sesuatu kepada selain Allah. Sebab, hanya Allah-lah yang mempunyai kekuasaan atas segala sesuatu. Segaloa usaha dan kerja keras tidak akan berarti apa-apa, jika Allah tidak menghendaki keberhasilan ats usaha itu. Manusia boleh berharap dan harus terus berusaha dengan seganap daya upaya, namun jangan lupa bahwa manusia tidak dapat menentukan suatau usaha itu berhasil atau gagal. Dengan demikain, tawakkal dilakukan sesuai dengan aturan yang benar, sehinga tidak ada penyimpangan akidah dan keyakinan dari perbuatan tawakkal yang salah.
·      Perintah untuk bertawakal
Tawakal kepada Allah termasuk perkara yang diwajibkan dalam Islam. Allah berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 159,
yang artinya “ Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah membut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu , kaena itu maafkanlah mereka dan bermusawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah, Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal”.

Dan dalam surat Al-maidah ayat 23:
yang artinya “…dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang yang beriman.

·      Bentuk-bentuk tawakal
Sebagai muslim kita harus mengenali bentuk-bentuk perilaku tawakkal, agar kelak dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-sehari, di antaranya sebagai berikut :
a.   Melakukan sesuatu atas dasar niat ibadah kepada Allah SWT.
b.   Tidak menggantungkan keberhasilan suatu usaha kepada selain Allah SWT.
c.   Bersikap pasrah dan siap menerima apa pun.
d.   Tidak memaksakan kehendak atau keinginan kepada siapa pun dan pihan mana pun.
e.   Bersikap tegar dan tenang, baik dalam menerima keberhasilan maupun kegagalan.
Contoh :
1)  Rajin belajar dan tawakal dengan berdoa kepada Allah akan menghasilkan kemudahan dalam mengerjakan soal.
2)  Ayah dan Ibu Ahmad adalah petani kecil. Ia sangat mendambakan agar Ahmad kelak menjadi anak saleh yang cerdas. Sebagai muslim dan muslimat yang taat beragama, setiap hari mereka selalu berdoa dan bertawakal kepada Allah semoga keluarganya hidup tentram di bawah ridho Allah.

·      Dampak positif bertawakal
a)      Memperoleh kepuasan batin karena keberhasilan usahanya mendapat ridho Allah SWT.
b)      Memperoleh ketenangan jiwa karena dekat dengan Allah yang mengatur segala-galanya.
c)      Mendapatkan keteguhan hati.


3. Bagaimana hubungan tasawuf dengan sikap Ihtiyar dan Tawakal
Agama islam merupakan agama yang menyeru umatnya untuk mencapai kemuliaan, ketinggian dan keagungan di antara bangsa-bangsa lain. Menurut sejumlah ulama seperti ibnu Taimiyyah dan ibn Qayyim Al-Jauziah, apa yang disebut tasawuf tak lebih dari etika islam. Oleh karena itu tasawuf  diberi label sebagai moralitas islam.

Dari moralitas timbullah sikap ihtiyar dan tawakal, dua sikap ini merupakan akhlak terpuji yaitu tingkah laku terpuji untuk kesempurnaan iman seseorang kepada Allah SWT. Akhlak yang terpuji juga terlahir dari sifat-sifat yang terpuji pula.

Manusia merupakan makhluk satu-satunya yang diberkati Tuhan dengan potensi dan kemampuan untuk mengolah dan menata alam ini, tentunya dengan usaha yang kreatif, produktif, dan humanis. Dalam proses usaha tersebut di butuhkan sikap ihtiyar dan tawakal untuk mencapai suatu keinginan yang di cita-citakannya sesuai dengan harapannya.

Tasawuf adalah suatu “revolusi spiritual”. Tasawuf akan selalu memperbarui dan menyemai kekosongan jiwa manusia. Kelimpahruahan materi yang mewarnai kehidupan dunia ini dianggap bukanlah sesuatu yang penting. Sebaliknya, kelimpahruahan hatilah yang menopangnya.
Untuk memulai ikhtiar, dituntut sikap muhasabah. Upaya ini akan melahirkan ketahanan diri serta terhindar dari kemungkinan pelencengan kepribadian. Hasilnya adalah sikap rendah hati, tidak arogan dan selalu memandang dirinya bersahaja ketika melakukan suatu tindakan, betapapun baiknya.




BAB III
PENUTUP

 Kesimpulan
Tasawuf ialah usaha melatih jiwa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, yang dapat membebaskan manusia dari pengaruh kehidupan duniawi untuk bertaqarrub kepada Tuhan sehingga jiwanya menjadi bersih, mencerminkan akhlak mulia dalam kehidupan, dan menemukan kebahagiaan spiritualitas.
Ikhtiar diartikan berusaha karena pada hakikatnya orang yang berusaha berarti memilih.  Adapun menurut istilah, berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada untuk meraih suatu harapan dan keingina yang dicita-citakan, ikhtiyar juga juga dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh yang dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. 
Dan tawakal adalah sikap pasrah dan menyerah terhadap hasil suatu pekerjaan atau usaha dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT .