SELAMAT MEMBACA SOBAT... SEMOGA BERMANFAAT AMIIN... BB : 542B97DF

Kamis, 02 Juli 2015

Pesantren

KLASIFIKASI PONDOK PESANTREN


DISUSUN OLEH:
                                      Kelompok 2     :    ANGGA ABDUL MALIK
                                                                     TETY SETIAWATY
                                                                     
                                      Mata Kuliah    :    Manajemen Pendidikan Pesantren
                                      Prodi.                :    Manajemen Pendidikan Islam
                                      Semester           :    IV (empat)
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG

2015

KATA PENGANTAR

Puji serta rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang terus menerus tanpa  berhenti sedikitpun memberikan dan melimpahkan rahmat dan nikmatnya yang tidak terhitung kepada penulis. Terutama nikmat iman, islam dan kesehatan serta kekuatan, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini. Penulis meyakini bahwa penulisan karya tulis ini, mustahil selesai tanpa pertolongan dan bimbingan Allah SWT. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada sang panutan Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya yang setia mengikuti ajarannya hingga akhir zaman.
Penulis sadar bahwa karya tulis ini masih sangat sederhana dan jauh dari kata sempurna. Memang tidak mudah bagi penulis untuk menyelesaikan karya tulis ini, karena banyak hambatan dan tantangan yang harus penulis hadapi baik dari faktor internal maupun eksternal. Maka disinilah pertolongan Alla SWT dan peran orang-orang terdekat yang dapat memberikan pemikiran dan motivasi, serta dukungan semua pihak penulis rasakan.
Penulis juga tidak lupa memohon untuk dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya jika dalam penulisan ini terdapat hal yang tidak berkenan. Namun demikian penulis berharap semoga karya tulis ini bermanfaat bagi diri pribadi khususnya dan para pembaca umumnya.

Karawang, 16 Maret 2015
Penulis & penyusun,


Kelompok 2


BAB I
PENDAHULUAN
A    Latar belakang masalah
 Sutrisno mengutip pendapat Azyumardi Azra, pesantren yang biasa disebut dengan pondok pesantren atau juga dengan pendidikan tradisional, sekalipun sudah banyak pesantren modern, merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Pesantren dipandang sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam karena tradisinya yang panjang di Indonesia. Pesantren pada masa modern dan komtemporer umumnya didirikan oleh Kiai yang berafiliasi pada Nahdlatul Ulama (NU) (Sutrisno, 2011: 56-57).
Pesantren juga menarik diperbincang­kan karena beberapa argumen ini. Pertama, bahwa pesantren tumbuh dan berkembang pada masyarakat Islam. Kedua, pesantren di Indonesia telah melewati perjalanan pan­jang. Tidak lama setelah Islam masuk ke Kepulauan Nusantara, embrio cikal bakal munculnya pesantren mulai tumbuh. Ketiga, Indonesia bukan hanya negara yang pen­duduknya muslim terbesar, melainkan juga memiliki paling banyak pesantren di dunia. Keempat, banyak ilmuan dan tokoh nasional pernah belajar di pesantren, seperti Idham Khalid, A. Mukti Ali, Nurcholish Mad­jid, Abdurrahman Wahid (mantan Presiden RI ke-4), Hasyim Muzadi (mantan ketua PBNU), Din Syamsuddin (ketua umum PP Muhammadiyah), dan Hidayat Nur Wahid (mantan ketua MPR).
Berdasarkan latar belakang ini penulis mencoba untuk mengklasifikasi pondok pesantren. Diantaranya yaitu pesantren salafi, khalafi, dan modern. pesantren-pesantren ini memiliki corak tradisi yang berbeda-beda yang dapat dijelaskan di bagian pembahasan.
B     Rumusan masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1)      Kategori pesantren salafi
2)      kategori pesantren khalafi
3)      kategori pesantren modern
C    Tujuan penulisan
Selain untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Manajemen Pesantren, juga untuk mengetahui dan memahami klasifikasi pesantren, diantaranya :
1)      Mengetahui dan memahami pesantren salafi
2)      Mengetahui dan memahami pesantren khalafi
3)      Mengetahui dan memahami pesantren modern
D    Manfaat penulisan

Sebagai tambahan khasanah keilmuan yang kita punya khususnya dalam bidang ilmu Manajemen Pesantren dan untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan pondok pesantren di Bumi Pertiwi ini.

BAB II
PEMBAHASAN
Pada umumnya, pesantren dibagi men­jadi dua, yaitu Salaf dan Modern. Dalam makalah ini, penulis mengikuti pendapat Ra­mayulis yang mengklasifikasi pesantren dari segi cara menyikapi terhadap tradisi, dibe­dakan menjadi tiga kategori, yaitu: Salafi, Khalafi, dan pesantren Modern. Ramayulis membedakan antara Khalafi dan Modern, yang biasanya oleh sebagian kalangan umat Islam disamakan. Pesantren-pesantren ini memiliki corak tradisi yang berbeda-beda yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

A    Pesantren Salafi
Secara etimologis kata “salaf” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sesuatu atau orang yang terdahulu, ulama-ulama terdahulu yang saleh. Abdul Mughist mengutip pendapat ‘Irfan A. Hamid, secara terminologi khazanah Islam, “salaf” berarti ulama generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’at at-Tabi’in yang merupakan kurun terbaik pasca rasulullah saw (KBBI, 2002: 982).
Menurut penulis, istilah pesantren Salafi di tengah-tengah masyarakat mengandung dua pemahaman yang berbeda. Pertama, pesantren Salafi dimaknai sebagai pesan-tren tradisional yang tetap mempertahankan kitab-kitab klasik serta mengapresiasi bu­daya setempat. Kedua, pesantren Salafi di­maknai sebagai pesantren yang secara kon­sisten mengikuti ajaran ulama generasi sa­habat, tabi’in, tabi’at tabi’in yang memiliki kecenderungan pada penafsiran teks secara normatif dan tidak/kurang mengapresiasi bu­daya setempat, karena semua budaya harus sesuai dengan zaman para Salafush-Sholih, yaitu sahabat, tabi’in, tabi’at tabi’in.
Menurut Ramayulis, pesantren Salafi–model pesantren tradisional merupakan jenis pesantren yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab klasik sebagai inti pendidikannya. Di pesantren ini, mata pelajaran umum tidak diberikan. Tradisi masa lalu sangat dipertahankan. Pemakaian sistem madrasah hanya untuk memudahkan sistem sorogan seperti dilakukan di lembaga-lembaga pengajian bentuk lama. Pesantren Lirboyo dan Ploso di Kediri Jawa Timur serta Pesantren Maslakul Huda di Kajen Pati Jawa Tengah agaknya dapat disebut sebagai contoh pesantren Salafi. Pesantren Salafi kelihatannya menjadi dirinya sebagai benteng utama dalam mempertahankan tradisi.
Sedangkan pesantren Salafi model kelompok reformis, sebagaimana Abdul Mughist mengutip pendapat Brink, termonologi “salaf” menurut kaum reformis yang dipelopori oleh Jamal ad-Din al-Afghani, Muhammad Abduh di Mesir, dan Muhammad Abdul Wahab di Saudi Arabia bahwa paham Salafiyyah adalah ajaran ulama’ generasi pertama yang konsisten secara literer terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, mengikis habis bid’ah, khurafat, dan tahayyul serta klenik, senantiasa membuka pintu ijtihad dan menolak taklid “buta”. Dari pendapat ini, yang dinamakan pesantren Salafi adalah pesantren yang secara konsisten mengikuti ajaran ulama generasi pertama yang memiliki kecenderungan pada penafsiran teks yang bersifat literalistik/normatif.
Menurut penulis, di tengah-tengah masyarakat, istilah pesantren Salafi biasa-nya digunakan oleh kelompok reformis un­tuk memberikan penekanan pada pesantren yang secara konsisten mengikuti ajaran ula­ma Salafush Sholih, yaitu sejak zaman para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in. Sedang­kan untuk kelompok umat Islam tradisiona­lis, biasanya lebih suka menggunakan isti­lah pesantren Salaf atau Salafiyyah, karena image pesantren Salafi lebih dekat dengan pemahaman Islam yang literal. Atau untuk membedakannya, penulis memberikan is­tilah Salafi-Modernis bagi pesantren Salafi kaum reformis dan Salafi-Tradisionalis bagi pesantren tradisional.

B     Pesantren Khalafi
Pesantren Khalafi tampaknya mene-rima hal-hal yang baru yang dinilai baik di samping tetap memelihara tradisi lama yang baik. Pesantren sejenis ini memberikan mata pelajaran umum di madrasah dengan sistem klasikal dan membuka sekolah-sekolah umum di lingkungan pesantren. Walau de­mikian, pengajaran kitab-kitab Islam klasik masih tetap dipertahankan. Pesantren Tebu Ireng, Tambak Beras dan Rejoso di Jom­bang Jawa Timur selain menyelenggarakan pendidikan madrasah, juga membuka seko­lah-sekolah menengah umum seperti SMTP dan SMTA. Mereka juga memberikan pe-ngajaran.
Menurut penulis, pesantren Khalafi merupakan model pesantren yang mencoba mengikuti perkembangan zaman dengan tetap mempertahankan tradisinya, yaitu mengkaji kitab-kitab klasik. Upaya pesan-tren Khalafi agar dapat berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah diajarkannya ilmu-ilmu umum di lingkungan pesantren, yang biasanya pesantren ini membuka lembaga pendidikan model madrasah maupun seko­lah untuk mengajarkan pelajaran umum. Biasanya, santri tetap tinggal di pesantren untuk mengikuti kajian kitab-kitab klasik di sore, malam, dan pagi setelah Shubuh, se-telah itu mereka mengikuti pelajaran umum di madrasah maupun sekolah.

C    Pesantren Modern
Pesantren Modern di mana tradisi Salaf sudah ditinggalkan sama sekali. Pengajaran kitab-kitab Islam klasik tidak diselenggarakan. Sekalipun bahasa Arab diajarkan, namun penguasaanya tidak diarahkan untuk memahami bahasa Arab terdapat dalam kitab-kitab klasik. Penguasaan bahasa Arab dan Inggris cenderung ditujukan untuk kepentingan-kepentingan praktis. Pesantren Gontor Ponorogo walaupun sangat menekankan pengetahuan bahasa Arab dan Inggris, sudah cukup lama meninggalkan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Pesantren-pesantren yang bercorak kekotaan seperti pesantren As-Syafi’iyah di Jakarta, Pesantren Prof. Dr. Hamka di Padang, pesantren Zaitun di Indramayu yang bercorak kampus modern dan diwarnai dengan corak khas Islam. Para siswa dan mahasiswa di berbagai jurusan ilmu dapat berdiskusi dalam lingkungan pesantren yang tidak lagi mengutamakan pengajian kitab-kitab kuning.
Sebagaimana Arief Subhan merujuk pada pondok modern Gontor, bahwa referensi utama dalam materi keislaman bukan kitab kuning, melainkan kitab-kitab baru yang ditulis para sarjana muslim abad ke-20. Ciri khas pondok modern adalah tekanannya yang sangat kuat kepada pembelajaran bahasa, baik bahasa Arab maupun Inggris. Ciri khas lain adalah aspek displin mendapat tekanan. Para guru dan santri diwajibkan berpakaian rapi dan berdasi.
Menurut penulis, istilah Khalafi kadang juga diartikan sebagai Modern, antonim dari istilah Salafi. Pesantren Khalafi juga berarti pesantren Modern. Tapi, dalam hal ini Ramayulis membedakannya. Pendapat Ramayulis tersebut ditekankan pada tradisi kajian kitab-kitab klasik. Bagi pesantren Khalafi, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan memelihara tradisi (mengkaji kitab klasik) adalah ciri khasnya. Kitab klasik menjadi kajian utama di pesantren Salafi/Khalafi dan biasanya, ketika mengkaji kitab klasik tertentu sampai selesai (khatam). Misalnya: mengkaji kitab Tafsir Jalalain sampai khatam.
Bagi pesantren modern, tidak lagi mengutamakan kajian kitab-kitab klasik dalam proses pembelajaran, tapi kitab-kitab berbahasa Arab yang ditulis oleh para tokoh muslim abad 20. Walaupun kadang di pesantren Modern masih menggunakan sebagian kitab-kitab klasik, tapi bukan menjadi kajian utamanya, tapi hanya menjadi referensi tambahan dan tidak dikaji sampai selesai (khatam). Di samping itu, pondok modern juga menekankan pada penguasaan bahasa asing, seperti bahasa Arab dan bahasa Inggris dan budaya kedisplinan yang sangat ketat. Penguasaan bahasa asing ini untuk membekali para santri agar dapat bersaing di dunia global dan dapat membaca kitab-kitab kontemporer baik yang menggunakan bahasa Arab maupun bahasa Inggris.

BAB III
PENUTUP
A    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, pesantren di tinjau dari cara menyikapi tradisi dibagi menjadi tiga, yaitu Salafi, Khalafi, dan Modern. Setiap pesantren ini memiliki tradisi yang sedikit berbeda. Perbedaan ini hanya pada penekankan pada tradisi kajian kitab-kitab klasik dan upaya pesantren dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
dalam proses belajar mengajar. Pesantren Salafi-Tradisionalis lebih mengutamakan lulusan yang ahli dalam bidang ilmu agama saja, sehingga menjadi tempat reproduksi ulama yang paling sukses.
Bagi pesantren Khalafi, perubahan sosial dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu diapresiasi, agar santri juga dapat mengikuti perkembangan zaman. Sehingga, pesantren ini membuka lembaga pendidikan model madrasah atau sekolah untuk memberikan bekal ilmu-ilmu umum bagi para santrinya, sedangkan ilmu agama di berikan di pesantren.
Bagi pesantren Modern, perubahan sosial dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus diapresiasi, bahkan harus dikuasai agar santri dapat berperan aktif dalam pembangunan Negara. Selain itu, pesantren modern juga berupaya keras agar santrinya memiliki wawasan yang luas tentang agama Islam dan ilmu pengetahuan, sehingga di pesantren ini diajarkan ilmu agama dari kitab-kitab kontemporer bukan hanya kitab klasik, dan juga penguasaan bahasa asing (khususnya bahasa Arab dan Inggris) menjadi ciri utamanya agar santri dapat bersaing di dunia global.

DAFTAR PUSTAKA
Ø Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2012
Ø Sutrisno, Pembaharuan dan Pengembangan Pendidikan Islam, Yogyakarta: Fadilatama, 2011.
Ø Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002

Tidak ada komentar:

Posting Komentar