SELAMAT MEMBACA SOBAT... SEMOGA BERMANFAAT AMIIN... BB : 542B97DF

Kamis, 02 Juli 2015

Psikologi Pendidikan

BELAJAR

KATA PENGANTAR

Puji serta rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang terus menerus tanpa  berhenti sedikitpun memberikan dan melimpahkan rahmat dan nikmatnya yang tidak terhitung kepada penulis. Terutama nikmat iman, islam dan kesehatan serta kekuatan, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini. Penulis meyakini bahwa penulisan karya tulis ini, mustahil selesai tanpa pertolongan dan bimbingan Allah SWT. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada sang panutan Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya yang setia mengikuti ajarannya hingga akhir zaman.
Penulis sadar bahwa karya tulis ini masih sangat sederhana dan jauh dari kata sempurna. Memang tidak mudah bagi penulis untuk menyelesaikan karya tulis ini, karena banyak hambatan dan tantangan yang harus penulis hadapi baik dari faktor internal maupun eksternal. Maka disinilah pertolongan Alla SWT dan peran orang-orang terdekat yang dapat memberikan pemikiran dan motivasi, serta dukungan semua pihak penulis rasakan.
Penulis juga tidak lupa memohon untuk dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya jika dalam penulisan ini terdapat hal yang tidak berkenan. Namun demikian penulis berharap semoga karya tulis ini bermanfaat bagi diri pribadi khususnya dan para pembaca umumnya.

Karawang, 10 Maret 2015
Penulis & penyusun,


Kelompok 2


BAB I
PENDAHULUAN
1.     Latar belakang masalah
Dalam kegiatan sehari – hari baik secara disadari atau tidak kita pasti mengalami sebuah kegiatan yaitu belajar. Belajar secara teori maupun praktek dari lingkungan sekitar. Belajar mengerti arti kehidupan dan belajar menjadi semakin baik. Anak – anak kecil pun belajar bagaimana cara mereka berjalan dan berkomunikasi dengan baik. Sebagai calon pendidik kita juga dituntut untuk mengetahui tentang arti penting belajar. Karena belajar merupakan masalah yang pasti dihadapi setiap orang. Oleh karena itu di sini kita akan mengupas lebih dalam tentang arti dari kata belajar itu sendiri. Yang diharapkan nantinya akan berguna bagi kita para calon pendidik untuk lebih memahami kegiatan beajar mengajar ini dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari bagi peserta didik kita.
2.     Rumusan masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
A      Definisi dan contoh belajar
B       Arti penting belajar
C       Belajar, memori, dan pengetahuan dalam perspektif agama
D      Teori-teori pokok belajar
E       Proses dan fase belajar
3.          Tujuan penulisan
A      Mengerti definisi dan contoh belajar
B       Mengetahui arti penting belajar
C       Mengerti belajar, memori, dan pengetahuan dalam perspektif agama
D      Mengetahui teori-teori pokok belajar
E       Mengerti proses dan fase belajar

4.          Manfaat penulisan

Sebagai tambahan khasanah keilmuan yang kita punya khususnya dalam bidang ilmu Psikologi Pendidikan dan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Bumi Pertiwi ini.


BAB II
PEMBAHASAN
A    Definisi dan contoh belajar
Fenomena yang ada dalam lingkungan kita masih banyak sekali yang mengartikan belajar dalam arti sempit. Yakni seorang yang belajar di dalam ruang kelas, atau sekolah. Padahal sebenarnya belajar tidak sesempit itu. Dan masih banyak orang yang masih beranggapan, bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu atau menuntut ilmu saja, adapula yang mengartikan bahwa belajar adalah menyerap pengetahuan.
Ada pula sebagian orang yang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/ materi pelajaran. Padahal belajar merupakan proses dasar dari pada perkembangan hidup manusia. Dan belajar bukanlah sekedar pengalaman belaka, akan tetapi belajar merupakan sebuah proses. Oleh karena itu belajar berlangsung secara aktif dan intregatif, dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan. Karena pada hakekatnya seseorang melakukan kegiatan belajar itu pastilah memilki sebuah tujuan. Contoh saja, ketika kita menginginkan untuk pandai bersepeda tentulah kita berusaha untuk belajar bagaimana menggunakan sepeda itu dengan baik. Ilustrasi tersebut merupakan contoh daripada belajar.
Untuk menghindari ketidak lengkapan persepsi dari belajar itu sendiri dan agar kita dapat memahami apa itu belajar secara luas, maka disini pemakalah akan memaparkan beberapa pengertian belajar dari beberapa sumber.
                 
Banyak ahli yang telah mendefinisikan apa itu belajar . Di antaranya adalah definisi yang diungkapkan oleh :
Hilgard dan Bower , bukunya Theories of Learning ( 1975 ) mengemukakan . “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang – ulang dalam situasi itu , di mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan , kematangan , atau keadaan – keadaan sesaat seseorang ( misalnya kelelahan , pengaruh obat dan sebagainya ) .”
Gagne , dalam bukunya The Conditions of Learning ( 1977 ) menyatakan bahwa : “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya ( performance – nya ) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi .”
Morgan , dalam bukunya Introduction to Psykology ( 1978 ) mengemukakan : “Belajar adalah setiap perubahan yang relatif rmenetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman .”
Witherington , dalam buku Educational Psykology mengemukakan “Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan , sikap , kebiasaan , kepandaian atau suatu pengertian .”
Menurut Muhibbin Syah, dalam bukunya, psikologi belajar menyatakan bahwa “belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsure yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan.
Timbulnya keanekaragaman pendapat para ahli di atas adalah fenomena perselisihan yang wajar, karena adanya perbedaan titik pandang. Untuk itu, penulis akan menganalisis definisi belajar dari berbagai penadapat tersebut. Bahwasanya ” belajar merupakan usaha untuk memperoleh pengetahuan, yang bisa melalui proses adaptasi, pengalaman, dan informasi yang telah didapat atau penemuan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga dengan belajar, manusia menjadi tahu, mengerti, memahami, dan mempengaruhi terhadap proses perubahan manusia itu sendiri.
Seseorang dikatakan belajar ketika di dalam dirinya terdapat keinginan atau tujuan untuk bisa melakukan suatu hal, sehingga mengakibatkan perbuatan dirinya menjdi sebuah kegiatan yang dinamakan belajar. Contoh, ketika kita melihat teman kita bisa mengoperasikan sebuah kalkulator ataupun HP dan kita tertarik untuk bisa melakukannya pula, dalam diri kita akan muncul keinginan untuk mencoba mengoperasikan alat tersebut, yang kemudian proses dari hal tersebut disebut dengan belajar.
B     Arti penting belajar
1)   Arti penting belajar bagi perkembangan manusia
Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung di dalam belajar. disebabkan oleh kemampuan berubah karena belajar, maka manusia dapat berkembang jauh dibandingkan mahluk-mahluk lainnya, sehingga mereka dapat terbebas dari kemandigaan fungsinya sebagai kholifah Tuhan di muka bumi.
Kualitas hasil proses perkembangan manusia itu banyak terulang pada apa dan bagaimana ia belajar. selanjutnya tinggi rendahnya kualitas perkembangan manusia itu akan menentukan masa depan peradaban manusia itu sendiri. E.L. Thordike seorang pakar teori Srbond meramalkan, jika kemampuan belajar umat manusia dikurangi setengah saja maka peradaban sekarang ini tak akan berguna bagi kehidupan mendatang. bahkan, mungkuin peradaban itu sendiri akan lenyap ditelan sang zaman. 
2)   Arti pentng belajar bagi kehidupan manusia
belajar juga memainkan peran penting di dalam mempertahankan kehidupan sekelompok manusia di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat diantara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena belajar akibat persaingan tersebut, kenyataan tragis bisa terjadi karena belajar.

C    Belajar, Memori, dan Pengetahuan
1)   Perspektif psikologi
Pada umumnya para ahli psikologi belajar khususnya mereka yang tergolong ahli cognitivitast sepakat bahwa hubungan antara belajar, memori, dan pengetahuan itu sangat erat dan tak mungkin dipisahkan. memori yang kita artikan sebagai ingatan itu adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan storage aytem, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat pada otak. Pusat memori dan pengetahuan 
Secara global otak terdiri dari dua bagian besar yaitu, bagian atas yang disebut cortex atau neocortex, bagian bawah yang disebut medulla dan sekitarnya. Otak atas yang terdapat dalam sepsis yang berderajat tinggi seperti manusia yang bersifat dinamis dan potensinya dapat dikembangkan seluas-luasnya, sedangkan otak bawah yang terdapat pada spens tinggi dan juga spen rendah yakni kera, kucing, dan seterusnya bersifat statis, namun otak bawah memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut;
a)    Medulla, berfungsi mengendalikan pernafasan, penalaran , pencernaan, dan detak jantung,
b)    Cerebellum, berfungsi mengkoordinasi berbagai gerakan organ jasmani dan reflek-reflek.
c)    Thalamus, berfungsi terutama sebagai stasiun penyambung informasi motor dan informasi motor dari sub-sub bagian otak bawah ke otak atas,
d)   Hypothalamus, berfungsi mengatur ekspresi-ekspresi yang berasal dari dorongan dasar seperti dorongan lapar dan dorongan seksual.
Ragam memori dan pengetahuan 
Ditinjau dari sudut informasi dan pengetahuan yang disimpan, memori manusia itu terdiri atas dua macam;
a)    semantic memory, yaitu memori khusus yang menyimpan arti-arti atau pengertian.
b)   episodic memory, yaitu memori khusus yang menyimpan informasi peristiwa-peristiwa.
Memori dan IQ
IQ pada dasarnya merupakan sebuah ukuran tingkatan kecerdasan yang berkaitan dengan usia, bukan kecerdasan itu sendiri. secara harfiyah IQ ialah hasil dari intelegensi. intelegensi sendiri dalam psikologi memiliki arti yang beraneka ragam antara lain yang paling pokok adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi baru secara cepat dan efektif atau kemampuan menggunakan konsep-konsep abstrak secara efektif. Dengan demikian intelegensi dapat di sinonimkan dengan kecerdasan.
2)   Perspektif Agama
Islam  dalam hal penekanannya terhadap siknifikasi fungsi kognitif dan fungsi sensori sebagai alat penting untuk belajar, dan sangat jelas, karena di dalam Al-Quran ada kata-kata kunci seperti Ya'qilun, Yatafakkarun, Yubshirun, Yasmaun, dan sebagainya.ini semuanya menunjukkan bukti betapa pentingnya penggunaan ranah cipta dan karsa manusia dalam belajar dan meraih ilmu pengetahuan. 
Arti penting memori dan pengetahuan
Islam, menurut dari.Yusuf Qardhawi (1984), adalah Akidah yang berdasarkan ilmu pengetahuan, bukan berdasarkan penyerahan diri secara membabi buta. Dan menurutnya juga berdasarkan Al-Quran dan Hadis Rasulullah  yang berisi perintah belajar, karena hanya melalui belajarlah ilmu pengetahuan dapat diraih. Dalam Al-Quran di terangkan:
قَالَ اللهُ تَعَالَ : وَقُلْ رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
Dan Allah berfirman : Katakanlah ‘Ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan !’ QS. Taha 114.
قَالَ اللهُ تَعَالَ : قُلْ هَلْ يَسْتَوِ الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَايَعْلَمُوْنَ
Dan Allah berfirman : Katakanlah ‘Apakah dapat di samakan orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui’ QS. Az-Zumar 9.
قَالَ تَعَالَ : اِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Dan Allah berfirman : Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah hanyalah mereka yang berilmu pengetahuan QS. Fathir 28.
Dalam Hadis juga diterangkan :
Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu pengetahuan, maka Allah akan memudahkannya jalan itu ke surga.”HR. Muslim

Abu darda ra. mendengar bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang melalui suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Para malaikat selalu meletakkan sayapnya menaungi para pelajar karena senang terhadap perbuatan mereka. Dan orang berilmu dimintakan ampunan oleh penghuni langit dan bumi, serta ikan-ikan didalam air. Kelebihan seorang berilmu atas ahli ibadah bagaikan kelebihan sinar bulan atas bintang-bintang lain. Sesungguhnya para guru adalah sebagai pewaris nabi. Sesungguhnya nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham. Hanya mewariskan ilmu agama. Barangsiapa yang telah mendapatkannya berarti telah mengambil bagian yang besar.”HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi.

D    Teori-teori pokok belajar
Untuk lebih memperjelas pengertian pentingnya belajar, prinsip-prinsip belajar dan bagaimana proses belajar itu terjadi. Di antara sekian banyak teori yang berdasarkan hasil eksperimen terdapat tiga macam yang sangat menonjol, yaitu: Connectionism, Classical Conditioning, dan Operant Conditioning. 
         1.          Koneksionisme
Teori koneksionisme (connectionism) adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874/1949) berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an. Eksperimen Thorndike ini menggunakan hewan-hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena belajar.
 Seekor kucing yang lapar di tempatkan dalam sangkar yang berbentuk kotak berjeruji yang dilengkapi dengan peralatan, seperti pengungkit, gerendal pintu, dan tali yang menghubungkan pengungkit dengan gerendal tersebut. Peralatan ini ditata sedemikian rupa sehingga memungkinkan kucing tersebut memperoleh makanan  yang tersedia di depan sangkar tadi.       
Keadaan bagian dalam sangkar yang disebut puzzle box (peti teka-teki) itu merupakan situasi stimulus yang merangsang kucing untuk bereaksi melepaskan diri dan memperoleh makanan yang ada didepan pintu. Mula-mula kucing tersebut mengeong, mencakar, melompat dan berlari-larian, namun gagal membuka untuk memperoleh makanan yang ada di depannya. Akhinya, entah bagaimana, secara kebetulan kucing itu berhasil menekan pengungkit dan terbukalah pintu sangkar tersebut. Ekperimen puzzle box ini kemudian terkenal dengan nama instrument conditioning. Artinya, tingkah laku yang dipelajari  berfungsi sebagai instrumental (penolong) untuk mencapai hasil atau ganjaran yang dikehendaki.
Berdasarkan eksperimen di atas, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respons. Itulah sebabnya teori koneksionisme juga disebut ‘‘S-R Bond Theory’’ dan “S-R Psychology of  Learning”. Di samping itu, teori ini juga terkenal dengan sebutan “ Trial and Error Learding”. Istilah ini menunjuk  pada panjangnya waktu atau banyaknya jumlah kekeliruan dalam mencapai suatu tujuan.
Apabila kita perhatikan dengen seksama, dalam eksperimen Thorndike tadi akan kita dapati dua hal pokok yang mendorong timbulnya fenomena belajar.
Pertama, keadaan  kucing  yang lapar. Seandainya kucing itu kenyang, sudah tentu tak akan berusaha keras untuk keluar. Bahkan, barangkali  ia akan tidur saja puzzle box yang mengurungnya. Dengan kata lain, kucing itu akan menampakkan gejala belajar untuk ke luar. Sehubungan dengan hal ini, hampir dapat dipastikan bahwa motivasi (seperti rasa lapar) merupakan hal yang sangat vital dalam belajar.
Kedua, tersedianya makanan di muka pintu puzzle box. Makanan ini merupakan efek positif atau memuaskan yang dicapai oleh respons dan kemudian menjadi dasar timbulnya hukum belajar yang disebut law of effect. Artinya, jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, hubungan antara stimulus dan repons akan semakin kuat. Sebaliknya semakin tidak memuaskan (mengganggu) efek yang dicapai respons, semakin lemah pula hubungan stimulus dan respons tersebut. Hukum belajar inilah yang menghasilkan  munculnya konsep Rienforcer dalam teori Operant Conditioning hasil penemuan B.F. Skinner.
Di samping law of effect, Thorndike juga mengemukakan dua macam hukum lainnya yang masing-masing disebut law of readiness dan law of exercise. Sekarang, kedua hukum ini sesungguhnya tidak terlalu popular, namun cukup berguna sebagai tambahan kajian dan perbandingan.
Law  of  readiness (hukum kesiapsiagaan) pada prinsipnya hanya merupakan asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pendayagunaan conduction units (satuan perantaraan). Unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Jelas, hukum ini semata-mata bersifat spekulatif, menurut Reber (1988), hanya bersifat historis.
Law of exercise (hukum latihan) ialah generalisasi atas law of use dan law of disuse Menurut Hilgard dan Bower (1975), jika perilaku (perubahan hasil belajar) sering dilatih atau digunakan  maka eksistensi perilaku tersebut akan semakin kuat (law of use). Sebaliknya, jika pelaku tadi tidak sering dilatih atau tidak digunakan maka akan terlupakan atau sekurang-kurangnya akan menurun (law of disuse).
      2.            Pembiasaan Klasik
Teori pembiasaan klasik (classical conditioning) ini berkembang berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov (1849-1936), seorang ilmuan besar Rusia yang berhasil menggondol hadiah Nobel  pada tahun 1909. Pada dasarnya classical conditioning  adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru  dengen cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut.
Kata classical yang mengawali nama teori ini semata-mata dipakai untuk menghargai karya Pavlov yang dianggap paling dahulu dibidang conditioning (upaya pembiasaan) dan untuk membedakannya dari teoriconditioning lainnya. Selanjutnya, mungkin kerena fungsinya, teori Pavlov ini juga dapat disebut respondent conditioning (pembiasaan yang dituntut).
Dalam eksperimennya, Pavlov menggunakan anjing untuk mengetahui hubungan-hubungan antaraconditioned stimulus (CS), unconditioned stimulus (UCS), conditioned response (CR), dan unconditioned response (UCR). CS adalah rangsangan yang mampu mendatangkan respons yang dipelajari, sedangkan respons yang dipelajari itu sendiri disebut CR. Adapun UCS berarti rangsangan yang menimbulkan respons yang tidak dipelajaridan respons yang tidak dipelajaritu disebut UCR.
Anjing percobaan  itu mula-mula diikat sedemikian rupa dan pada salah satu kelenjar air liurnya diberi alat penampung cairan yang dihubungkan dengan pipa kecil (tube). Perlu diketahui bahwa sebelum dilatih (dikenai eksperimen), secara alami anjing itu selalu mengeluarkan air liur setiap kali mulutnya berisi makanan. Ketika bel dibunyikan, secara alami pula anjing itu menunjukkan reaksinya yang relavan, yakni tidak mengeluarkan air liur.
Kemudian, dilakukan eksperimen berupa latihan pembiasaan mendengar bel (CS) bersama-sama dengan pemberian makanan berupa serbuk daging (UCS). Setelah latihan yang berulang-ulang ini selesai, suara bel tadi (CS) didengarkan lagi tanpa disertai makanan (UCS). Apakah yang terjadi? Ternyata anjing percobaan tadi mengeluarkan air liur juga (CR), meskipun hanya mendengar suara bel (CS). Jadi, (CS) akan menghasilkan (CR) apabila (CS) dan (UCS) telah berkali-kali dihadirkan bersama-sama.
Dari hasil percobaan itu, Pavlov mendapat kesimpulan bahwa gerakan-gerakan refleks itu dapat dipelajari, dapat berubah karena latihan. Sehingga dengan demikian dapat dibedakan menjadi dua macam refleks, yaitu refleks wajar (keluar air liur ketika makan) dan refleks bersyarat/refleks yang dipelajari (keluar air liur ketika mendengar bunyi bel).
      3.            Pembiasaan Perilaku Respons
Teori pembiasaan perilaku respons (operant conditioning) ini merupakan teori belajar yang berusia paling muda dan masih sangat berpengaruh dikalangan para ahli psikologi belajar masa kini. Penciptanya bernama Burrhus Frederic Skinner (lahir tahun 1904).
Operant” adalah sejumlah perilaku atau respons yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat. Tidak seperti dalam respondent conditioning  (yang responsnya didatangkan oleh stimulus tertentu), respons operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan olehreinforcer. Reinforcer itu sendiri adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical respondent conditioning.
Dalam salah satu eksperimennya, Skinner menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang kemudian terkenal dengan nama “Skinner Box”. Peti sangkar ini terdiri atas dua macam komponen pokok, yakni: manipulandum dan alat pemberi reinforcement yang antara lain berupa wadah makanan. Manipulandumadalah komponen yang dapat dimanipulasi dan gerakannya berhubungan dengan reinforcement. Komponen ini terdiri atas tombol, batang jeruji, dan pengungkit.
Dalam eksperimen tadi mula-mula tikus itu mengeksplorasi peti sangkar dengan cara lari kesana kemari, mencium benda-benda yang ada disekitarnya, mencakar dinding dan sebagainya. Aksi-aksi seperti ini disebut”emitted behavior” (tingkah laku yang terpancar), yakni tingkah laku yang terpancar dari organisme tanpa memperdulikan stimulus tertentu. Kemudian pada gilirannya, secara kebetulan salah satu emitted behaviortersebut (seperti cakaran kaki depan atau sentuhan moncong) dapat menekan pengungkit. Tekanan pengungkit ini mengakibatkan munculnya butir-butir makanan ke dalam wadahnya.
Butir-butir makanan yang muncul itu merupakan reinforcer bagi penekanan pengungkit. Penekanan pengungkit ini disebut tingkah laku operant yang akan terus meningkat apabila diiringi dengan reinforcement,yakni penguatan berupa butir-butir makanan yang muncul pada wadah makanan.
Jelas sekali bahwa eksperimen Skinner di atas mirip sekali dengan trial and error learning yang ditemukan oleh Throndike. Dalam hal ini, fenomena tingkah laku belajar menurut Throndike selalu melibatkansatisfaction/kepuasan, sedangkan menurut Skinner fenomena tersebut melibatkan reinforcement/penguatan. Dengan demikian, baik belajar dalam  teori S-R Bond maupun dalam teori operant conditioning langsung atau tidak, keduanya mengakui arti penting law of efect.
Selanjutnya, proses belajar dalam teori operant conditioning juga tunduk kepada dua hukum operant yang berbeda, yakni: law of operant conditioning dan law of operant extinction. Menurut law of operant conditioning, jika timbulnya tingkah laku operant diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan meningkat. Sebaliknya, menurut law of operant extinction, jika timbulnya tingkah lakuoperant yang telah diperbuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan menurun atau bahkan musnah. Hukum-hukum ini pada dasarnya sama saja dengan hukum-hukum yang melekat dalam proses belajar menurut teori pembiasan yang klasikal.
Teori-teori belajar hasil eksperimen Thorndike, Skinner, dan Pavlov di atas secara principal bersifat behavioristik dalam arti lebih menekankan timbulnya perilaku  jasmaniah yang nyata dan dapat diukur. Teori-teori itu juga bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respons sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Jika kita renungkan dan bandingkan dengan teori juga temuan riset psikologi kognitif, karakteristik belajar yang terdapat dalam teori-teori behavioristik yang terlanjur diyakini sebagian besar ahli pendidikan kita itu, sesungguhnya mengandung banyak kelemahan. 

E     Proses dan fase belajar
   1.          Definisi proses belajar
Proses adalah kata yang berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan kedepan”. Kata ini mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasarab atau tujuan. menurut Chaplin (1972) proses adalah any change in any objek or organism, particulary a behavioral or psychological change. (proses adalah perubahan yang menyangkut tingkah laku atau perubahan.
Dalam psikologi belajar proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu (Reber, 1988). Jika kita perhatikan ungkapan any change in any object or organism, dalam definsi chaplin diatas dan kata-kata “cara-cara atau langkah-langkah” dalam definisi Reber tadi, istilah “tahapan perubahan” dapat kita pakai sebagai padanan kata proses. Jadi, proses nelajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam dirir siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi kearah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya.

      2.            Fase-fase dalam proses belajar
karena belajar itu merupakan aktivitas yang berproses, sudah tentu di dalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap. perubahan-perubahan tersebut timbul melalui fase-fase yang antara satu dengan laninnyayang lebih maju daripada sebelumnya.
Menurut Jerome S. Bruner, dalam proses belajar siswa menempuh tiga fase, yaitu:
1)   Tahap informasi (tahap penerimaan materi)
Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari.
2)   Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)
Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrakatau konseptual.
3)   Tahap evaluasi
Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau masalah yang dihadapi.

Menurut Wittig (1981) dalam bukunya psychology of learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam tahapan tahapan yang mencakup:
1)   Tahap penerimaan informasi
seorang siswa mulai menerima informasi sebagai stimulus dan melakukan respons terhadapnya, sehingga menimbulkan pemahaman dan perilaku baru.
2)   Tahap penyimpanan informasi
seorang siswa akan secara otomatis mengalami proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang ia peroleh ketika menjalani proses belajar.
3)   Tahap mendapatkan kembali informasi
Seorang siswa kan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya, ketika ia menjawab pertanyaan dan memecahkan masalah.


BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN
Belajar merupakan sebuah proses yang mampu merubah tingkah laku seseorang yang memerlukan sebuah proses secara terus menerus . Kita juga perlu mengetahui berbagai teori – teori tentang belajar sehingga menambah wawasan kita bagaimana cara belajar yang mampu membantu kita mendapatkan hasil yang maksimal. Yang sangat diharapkan setelah kita belajar tidaklah hanya menguasai teorinya saja, tetapi bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat membuat kehidupan kita lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA
Ø  Purwanto Ngalim . Psikology Pendidikan . Bandung : Remaja Rosdakarya . 2007
Ø  Syah Muhibbin . Psikologi Pelajar . Jakarta : Raja Grafindo Persada . 2003
Ø  Syah Muhibbin . Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru . Bandung : PT Remaja Rosdakarya . 2014
Ø  Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004),

Tidak ada komentar:

Posting Komentar